ads

Mari Kita Jaga Sumber Air Minum Kita

Senin, 10 Desember 2012


Secara teori air yang ada di permukaan bumi relatif tetap, Anda mungkin masih ingat dengan siklus air yang pernah dipelajari waktu sekolah dulu. Air yang ada di laut, sungai, danau, daratan, tanaman dan lainnya menguap ke angkasa dan kemudian menjadi awan. Lalu uap air yang bergumpal menjadi awan tersebut akan menjadi bintik-bintik air yang turun ke bumi dalam bentuk hujan, salju atau es. 

Air yang jatuh ke permukaan bumi masuk ke tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah, batuan atau tanaman dan terserap oleh akar tanaman, adapula yang langsung jatuh ke laut, sungai, danau atau permukaan air lainnya. Dari akar tanaman tersebut air menetes dan mengalir kembali melalui sungai-sungai kecil dari pegungungan atau dataran tinggi hingga ke dataran rendah. Begitu seterusnya siklus air tersebut berlangsung. 

Sayangnya sekarang siklus air ini tidak seperti teori yang kita pelajari di sekolah. Air yang turun ke bumi melalui dataran tinggi kini banyak yang tidak diserap oleh tanaman, karena banyak tanaman yang ditebang secara sembarangan tanpa memperhatikan lingkungan. Banyak hutan yang beralih fungsi jadi lahan pertanian dan perumahan. Sehingga air yang jatuh ke bumi langsung mengalir ke dataran yang lebih rendah dan bisa mengakibatkan terjadinya bencana longsor dan banjir. 

Seperti kita ketahui bersama, pada saat musim hujan bencana alam seperti longsor dan banjir sering terjadi di negeri ini, begitu juga dengan musim kemarau, panas terik dan musim kemarau berkepanjangan sering terjadi. Ini semua diakibatkan karena tidak terserapnya air hujan oleh akar tanaman. Akar tanaman dapat mengatur keluarnya air yang akan menjadi sumber air bagi masyarakat yang tinggal dibawahnya. Sumber mata air yang sangat jernih dan sehat ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti mandi, masak, dan mencuci pakaian. Disamping fungsi lain seperti pengairan dan tenaga listrik. 

Air biasanya mengalir dari hulu ke hilir melalui sungai. Dari daerah tinggi hingga ke daerah yang rendah. Air yang semula besih dan jernih, sesampainya di daerah perkotaan berubah warna dan bau. Ini tidak lain karena ulah dari manusia yang membuang limbah, dan sampah ke sungai. Sehingga air yang dulunya bisa dimanfaatkan untuk mandi, memasak, mencuci pakaian dan lain-lain, kini tidak bisa digunakan untuk hal tersebut. 

(siswa diajak melestarikan sumber air dengan cara membuat lubang biopori)

Berbagai cara yang harus dilakukan kita untuk menjaga sumber air minum agar tetap terjaga dengan baik : 
  1. Jangan menebang pohon yang ada di hutan atau pegunungan secara sembarangan. Gunakan sistem tebang pilih dan tanami lagi dengan tanaman yang baru. 
  2. Reboisasi atau penanaman hutan kembali. Daerah yang tidak berfungsi atau gundul harus segera ditanami kembali agar tidak terjadi bencana tanah longsor dan banjir. 
  3. Membersihkan saluran air atau sungai dari kotoran seperti sampah dan limbah yang berbahaya bagi kesehatan manusia. 
  4. Buatlah lubang-lubang biopori di lingkungan warga yang memiliki tingkat genangan air yang tinggi, sehingga air dapat terserap ke dalam tanah dengan baik. 
  5. Hemat menggunakan air, tutup keran air jika tidak digunakan setelah mandi, gosok gigi atau berwudhu. 6. Mengurangi konsumsi barang yang banyak menggunakan air dan menggunakan sedikit deterjen saat mencuci. 
  6. Memanfaatkan air yang kurang bersih menjadi air yang sehat bebas kuman dan bakteri, jernih, yang layak dikonsumsi oleh manusia dengan bantuan alat water purifier yang dinamakan Pure it
Nah mudah-mudahan dengan cara tadi, sumber air minum yang ada saat ini akan tetap lestari dan bisa dimanfaatkan untuk anak cucu kita kelak.

0 komentar:

Poskan Komentar test