ads

Jakarta Layak Jadi Ibukota ASEAN

Rabu, 04 September 2013

Indonesia patut berbangga diri karena Jakarta menjadi sekretariat dari organisasi di kawasan Asia Tenggara yaitu ASEAN. Terpilihnya Jakarta sebagai sekretariat ASEAN tentu tidak secara kebetulan, Ibukota Indonesia ini terpilih karena melihat jasa Indonesia sebagai negara pendiri ASEAN. 

Selain itu Indonesia dipilih karena merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar di ASEAN dan memiliki pengaruh tidak hanya di ASEAN tetapi juga dunia. Indonesia bisa dianggap sebagai pemersatu, dan juga sebagai penengah dan pemberi solusi yang terbaik antar negara-negara ASEAN saat sedang terjadi konflik. Indonesia dianggap sebagai mampu mempromosikan kehidupan masyarakat regional di Asia Tenggara ke seluruh dunia, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai saling menghormati, tidak mencampuri urusan dalam negeri dan mengutamakan konsensus. 

Contoh konkrit diplomasi Indonesia adalah sebagai penggagas konsep Komunitas ASEAN yang terdiri dari 3 pilar pada tahun 2003. Diplomasi RI juga berinisitatif menyelesaikan konflik internal dan konflik diantara negara anggota, seperti Kamboja pada tahun 1979, Filipina selatan pada tahun 1996, Thailand-Kamboja pada tahun 2011. 

Indonesia sebagai salah satu pendiri ASEAN dan Jakarta sebagai markas ASEAN, memiliki dampak positif bagi Jakarta karena banyak duta-duta dari negara lain yang bertugas dan berkunjung ke Jakarta, secara tidak langsung akan memberikan dampak bagi pariwisata Jakarta dan juga Indonesia. 

Banyaknya duta dari negara-negara lain ke Jakarta bisa memberikan pengaruh dengan memberikan masukan-masukan yang positif terhadap Jakarta mengenai permasalahan yang dihadapi oleh ibukota Indonesia ini, seperti penggunaan monorel, kereta bawah tanah, serta kebersihan dan penataan kota dari negara-negara ASEAN. 

Jakarta layak menjadi Ibukota ASEAN karena Jakarta merupakan kota majemuk dengan beragam adat, budaya, bahasa, agama dan lain sebagainya yang tidak dimiliki oleh kota-kota di negara lain di negara ASEAN. 

Selain dampak positif juga bisa berdampak negatif bagai Jakarta sebagai Diplomatic City of ASEAN yakni banyaknya wisatawan yang memiliki budaya yang tidak sesuai dengan adat budaya bangsa Indonesia, sehingga dikhawatirkan gaya-gaya yang negarifnya ditiru oleh generasi muda kita saat sekarang. 

Selain itu banyak wisatawan dari luar negeri yang memiliki penyakit dalam, dan juga penyakit menular, sehingga kita harus berhati-hati terhadap semua warga negara yang berasal dari luar negeri, terutama bagi para perempuan seks komerisal yang ada di Jakarta. 

Oleh sebab itu Jakarta perlu mempersiapkan diri untuk menjadi Ibukota ASEAN dengan cara : 

  • Menata seluruh sarana dan prasarana yang ada di Jakarta, 
  • Memperbanyak ruang publik untuk berbagi dan bersosialiasi, 
  • Menyediakan fasilitas internet di banyak tempat, 
  • Mempersiapkan transportasi masal yang aman dan nyaman termasuk untuk para wisatawan. 
  • Mempromosikan Jakarta ke negara-negara lain. 
  • Memperbanyak penerbangan langsung ke Jakarta. 
  • Memperbanyak acara-acara yang menarik di Jakarta 
  • Membentengi warganya dengan agama yang kuat sehingga tidak terpengaruh negatif dari luar negeri.
Mudah-mudahan dengan cara seperti ini Jakarta akan terpilih menjadi Ibukota ASEAN yang banyak dikunjungi oleh wisatawan dari luar negeri.

2 komentar for Jakarta Layak Jadi Ibukota ASEAN:

  1. Indonesia memang memiliki kekuatan, namun terkadang budaya nrimo yang sering jadi andalan menjadi kelemahan yang sering dimanfaatkan pihak asing untuk menyerang balik. Paham nggak paham dengan comentar saya. harus paham hehe...

    BalasHapus
  2. nah, saya suka nih point2 persiapan untuk Jakarta jadi Diplomatic City of Asean, lebih konkrit bentuknya... :D
    sukses lombanya ya..:D

    BalasHapus

Mari budayakan komentar dengan menggunakan kata-kata yang baik dan sopan tanpa spam