ads

Sulit Rasanya Tinggal di Indonesia Tidak Disadap

Kamis, 21 November 2013
(SBY mengunakan smartphone Nokia E90-1)

Beberapa hari belakang ini kita dijejali berita tentang kabar penyadapan Badan Intelijen Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para menteri-menterinya. Ternyata penyadapan ini dilakukan tidak hanya kepada presiden dan menteri-menterinya saja, tetapi juga kepada orang-orang yang dianggap oleh Australia sebagai orang yang punya pengaruh dalam perpolitikan Indonesia. 

Penyadapan ini sulit dihindari karena Presiden dan para menterinya menggunakan smartphone dari vendor-vendor ternama seperti Nokia, BlackBerry dan Samsung yang tidak ada berani menyertakan tagline bebas dari penyadapan. Karena hampir semua vendor tersebut menggunakan chipset yang berasal dari Intel atau Qualcomm yang berasal dari Amerika Serikat. 

Coba kita perhatikan smartphone yang digunakan oleh Presiden SBY dan orang-orang penting di sekelilingnya : 
  1. Susilo Bambang Yudhoyono, menggunakan ponsel Nokia E90-1 
  2. Kristiani Herawati ( Ani Yudhoyono ), menggunakan ponsel Nokia E90-1 
  3. Boediono, menggunakan ponsel BlackBerry Bold 9000 
  4. Jusuf Kalla, menggunakan ponsel Samsung SGH-Z370
  5. Dino Pati Djalal menggunakan ponsel BlackBerry Bold 9000 
  6. Hatta Rajasa menggunakan ponsel Nokia E90-1 
Nah oleh karena itu kita sebagai orang yang tinggal di Indonesia sulit rasanya untuk tidak disadap. Apalagi hampir mayoritas gadget seperti smartphone, ponsel, tablet dan perangkat lainnya buatan dari luar negeri. Sebagai contoh perangkat Android yang banyak beredar di Indonesia, mau tidak mau kita harus menggunakan akun gmail yang notabenenya buatan Amerika Serikat. 

Produk-produk dari Google, seperti Gmail, Android, Drive, Youtube, Blogger dan lain sebagainya semua harus menggunakan akun Gmail untuk bisa menggunakannya. Jadi suka tidak suka, rela tidak rela semua perangkat yang kita gunakan akan bisa diketahui oleh sang raksasa teknologi Google yang berasal dari Amerika Serikat. 

Walaupun Google bersedia memberikan data rahasia penggunanya kepada pemerintah di negara tertentu dengan alasan keamanan suatu negara, termasuk memberikan berarti data dari username, password dan lain sebagainya yang sudah pasti sudah diketahui terlebih dahulu oleh Google yang berasal dari Amerika Serikat. 

Selain itu mayoritas pengguna smartphone, ponsel dan tablet menggunakan operator seluler. Seluruh operator Indonesia bisa merekam semua data pelanggannya seperti pembicaraan telepon, SMS dan aktifitas lainnya. Apalagi seluruh operator Indonesia tidak ada yang bebas dari pengaruh luar negeri. Sehingga pengguna Indonesia sulit terlepas dari yang namanya penyadapan. 

Australia kabarnya menggunakan satelit Palapa milik Indosat untuk menyadap pembicaraan presiden dan para menterinya. Cuma tidak dijelaskan satelit palapa yang mana yang digunakan Australia untuk menyadap pembicaraan presiden dan menterinya tersebut. Karena Satelit milik Indosat ada dua yakni Palapa C-2 dan Palapa D. 

Selain melalui satelit, penyadapan oleh Australia juga dilakukan melalui infrastruktur jaringan milik SingTel, pemilik 35% saham Telkomsel. Menurut laporan dari Sydney Morning Herald, dari data intelijen yang dikutipnya, penyadapan dilakukan melalui kabel optik SEA-ME-WE-3 yang terbentang di bawah laut sepanjang 39 ribu kilometer. 

Jadi kesimpulannya Indonesia sulit terbebas dari yang namanya penyadapan selama kita sendiri senang menggunakan produk-produk yang berasal dari luar negeri, selain itu sulit rasanya kita terbebas dari penyadapan selama operator seluler kita bebas dimiliki oleh orang-orang dari negara lain.

Sumber Foto 

1 komentar on Sulit Rasanya Tinggal di Indonesia Tidak Disadap

  1. Negara kita lemah sih mas.. kurang tegas.. mengambil kebijakan tentang tentang teknologi informasi

    BalasHapus

Mari budayakan komentar dengan menggunakan kata-kata yang baik dan sopan tanpa spam