ads

Mewujudkan Pembangunan yang Merata di Seluruh Indonesia

Selasa, 08 November 2016
Makan bersama sebagai bentuk pendidikan karakter (Foto Dokumen Pribadi)

Sejak Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, negeri kita terus berbenah dan melakukan pembangunan dalam segala hal. Di awal kemerdekaan tentu bangsa Indonesia masih bergelut dengan penjajahan yang ingin menguasai kembali dan masih minimnya sumber daya manusia serta kekurangan dana untuk membangun negeri ini. 

Tetapi setelah lebih dari 71 tahun Indonesia merdeka seharusnya negeri kita sudah lebih maju dari negara lain. Sebagai perbandingan coba kita lihat negeri matahari terbit Jepang yang luluh lantak di bom atom oleh Amerika Serikat beberapa hari sebelum Indonesia merdeka tetapi kini perekonomian dan pembangunannya lebih pesat dibandingkan dengan Indonesia.

Banyak hal yang membedakan antara Indonesia dengan Jepang, sehingga Jepang lebih maju dalam dibandingkan dengan negara kita. Pertama karena luas wilayahnya yang terpaut jauh dengan negara kita. Jepang memiliki luas wilayah 377.923,1 km² sementara Indonesia memiliki luas 1.905 Juta km². Sehingga Jepang lebih mudah untuk mengelolanya dibandingkan dengan Indonesia. 

Perbandingan Indonesia dan Jepang


Selain luas, Indonesia memiliki banyak potensi yang bisa diberdayakan, selain potensi yang ada di daratan, lautan, udara bahkan kekayaan yang ada di dalam permukaan bumi. Kalau digunakan untuk kepentingan rakyatnya tentu Indonesia memiliki kemampuan yang lebih dari cukup bahkan bisa dibilang berlimpah. 

Kedua sumber daya manusianya, Jepang memiliki orang-orang pekerja keras yang tidak mudah menyerah dalam melakukan pekerjaannya dalam menciptakan sesuatu produk atau jasa. Berbeda dengan prinsip sebagai orang Indonesia yang belum mengerjakan sesuatu sudah bilang susah dan kalau gagal tidak akan mengulanginya lagi hingga berkali-kali. 

Ketiga budaya tepat waktu, setiap ada event atau acara, sudah menjadi tradisi di Indonesia dengan istilah “jam karet”. Waktu yang ditentukan jam 8 tetapi datangnya jam 8 lebih bahkan acaranya dibuka mulai jam 9. Bagi orang Jepang waktu adalah hal yang paling berharga. Menunda-nunda pekerjaan sama dengan halnya menambah pekerjaan. Kata “santai saja” masih sering terdengar padahal pekerjaannya menumpuk dan harusnya cepat diselesaikan. 

Keempat mempunyai budaya rasa malu, Orang Jepang dan Indonesia sebenarnya sama-sama orang timur karena itu sebenarnya memiliki rasa malu, hanya saja bagi orang Jepang jika mereka merasa gagal dalam pekerjaannya maka dia akan mengundurkan diri karena masih mempunyai rasa malu yang tinggi, sementara di negeri kita, jarang sekali ada pemimpin yang gagal kemudian mengundurkan diri. 

Kelima memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, Orang Indonesia belum bisa seperti orang Jepang yang kemana-mana selalu membaca buku, karena dengan membaca buku akan terbuka wawasan dan pengalamannya selain itu dengan buku tersebut orang Jepang memiliki ketertarikan dan keinginan yang tinggi. Maka tidak heran inovasi-inovasi teknologi muncul dari orang Jepang. Saat ini orang Indonesia masih lebih banyak sebagai pengguna teknologi dibandingkan menciptakan teknologi. 

Nah sekarang mari kita lihat pembangunan yang di Indonesia apakah sudah sesuai harapan atau belum. Berbagai sarana dan prasaran, fasilitas umum memang sudah disediakan oleh pemerintah tetapi dalam kenyataannya masih jauh dari harapan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dari sekian banyak pembangunan yang nyata dan langsung dinikmati oleh masyarakat Indonesia hanya beberapa yang bisa dirasakan oleh warganya. Berikut pembangunan yang bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia : 
Jalanan beton hingga ke pelosok desa (Foto Dokumen Pribadi)

Pertama adalah jalan. Suatu negara akan terlihat banyak korupsinya atau tidak bisa dilihat dari jalannya. Semakin sedikit jalanan yang berlubang dan rusak maka semakin jauh negara tersebut dari Korupsinya. Jalan sangat penting bagi perekonomian suatu bangsa. Karena dengan jalan yang mulus dan tidak macet maka aktivitas perekonomian akan berjalan lancar. 

Sementara itu jika jalanan rusak dan berlubang serta sering macet maka perekonomian akan tersendat. Para produsen akan kesulitan saat mengirim barangnya ke konsumen, begitu juga saat masyakarat akan melakukan aktivitasnya dari rumah ke tempat pekerjaan atau bepergian ke luar daerah akan terganggu jika jalannya berlubang, dan macet. 

Jalanan sudah retak padahal belum lama dibeton (Foto Dokumen Pribadi)

Saat ini pemerintah sering menunjuk kontraktor dengan melakukan perbaikan jalan dengan sistem betonisasi atau pengaspalan di berbagai wilayah di Indonesia, tetapi sangat disayangkan ada beberapa kontraktor yang memanfaatkan pembangunan tersebut dengan ala kadarnya dan terkesan mencari untung yang banyak. 

Seperti halnya betonisasi jalan, seharusnya menggunakan pondasi yang menggunakan besok agar lebih kokoh dan kuat jalannya, tetapi kenyataanya banyak jalan yang hanya diberi besi pada ujung-ujungnya saja. Sehingga nantinya jalanan yang harusnya bisa bertahan selama lima atau sepuluh tahun tetapi hanya beberapa hari saja jalanan sudah retak-retak. 

Besi beton asal-asalan tidak masuk ke dalam (Foto Dokumen Pribadi)

Selain itu pembangunan jalan di Indonesia tidak efisien waktu. Di beberapa tempat banyak pembuatan jalan yang memakan waktu hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Seharusnya penyedia layanan jalan raya dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum selektif dalam memilih kontraktor dan melakukan perjanjian sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 

Pengawasan pengerjaan perbaikan jalan atau pembuatan jalan sebaiknya dilakukan oleh pihak yang netral sehingga tidak akan terjadi kongkalingkong atau korupsi dalam pembuatan atau perbaikan jalan di seluruh Indonesia. 

Perbaikan dan pembuatan jalan sebaiknya tidak hanya Jawa Sentris atau terpusat di Pulau Jawa, tetapi juga harus merata ke seluruh pelosok Indonesia. Karena mereka juga bagian tak terpisahkan dari negara kesatuan republik Indonesia sehingga harus diperhatikan terutama akses jalannya. 

Jangan sampai di pelosok atau pedalaman Indonesia jalannya belum diaspal selama bertahun-tahun dan terkesan dibiarkan begitu saja. Apalagi untuk daerah yang lokasinya dekat dengan perbatasan, mereka sangat rentan untuk berpindah kewarganegaraannya bahkan memindahkan batas negara jika tidak diperhatikan oleh pemerintahnya. 

Jembatan hanya cukup untuk satu mobil (Foto Dokumen Pribadi)

Kedua perbaikan atau pembuatan jembatan. Ada banyak jembatan yang ada di Indonesia yang tidak layak digunakan bahkan membahayakan bagi keselamatan orang yang melaluinya. Pemerintah harus bertindak cepat sebelum terjadi korban jiwa, jangan sampai setelah ada korban baru ada perbaikan. 

Dinas pekerjaan umum bekerjasama dengan pihak universitas atau para peneliti, harus mencari cara terbaik dan tercepat dalam perbaikan dan pembuatan jembatan baru. Hal ini sering kita melihat bahwa perbaikan atau pembuatan jembatan yang ada di beberapa daerah di Indonesia memakan waktu berminggu-minggu bahkan hingga berbulan-bulan. 

Akibatnya sudah bisa dipastikan kemacetan sering terjadi yang bisa menghambat perekonomian nasional. Selain itu biaya operasional dan waktu yang dibutuhkan sangat lama sehingga sangat merugikan bagi pemilik perusahaan atau pengusaha kecil dan menengah. 

Indonesia sebenarnya bangga memiliki banyak tenaga ahli yang bisa membangun jalan tol antar pulau seperti Tol Surabaya Madura dan Tol Laut Mandara di Bali yang bisa membuat jalan di jembatan yang menyeberangi antar pulau.


Ketiga sarana pengairan. Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia, tidak ada air bisa dipastikan manusia akan kehausan dan bisa berdampak pada kematian. Oleh karena itu perlu dibuat sarana pengairan bagi seluruh warga negara Indonesia baik yang ada di pedesaan maupun di perkotaan. 

Waduk untuk PLTA, pengairan, dan air bersih (Foto Dokumen Pribadi)

Di beberapa tempat di Indonesia, Pemerintah sudah membuat sumber air seperti waduk atau bendungan yang bisa dimanfaatkan selain dimanfaatkan untuk air minum juga dapat digunakan untuk mengaliri sawah dan bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik, mencegah banjir, budidaya perikanan, dan juga pariwisata. 

Sayangnya di beberapa tempat di Indonesia masih banyak warga yang belum mendapatkan fasilitas air bersih, sehingga mereka harus membeli air dirigenan, atau air galon untuk minum sehari-hari bahkan ada beberapa tempat di Indonesia untuk mendapatkan air bersih harus rela berjalan berkilo-kilo meter agar bisa mendapatkan air bersih. 

Keempat adalah tempat tinggal yang layak. Tempat tinggal yang layak bisa berupa rumah, apartemen atau rumah susun. Tempat tinggal selain untuk tempat istirahat juga tempat berinteraksi dengan anggota keluarga. Tapi sayangnya besarnya cicilan, dan harganya sangat mahal yang membuat masyarakat tidak sanggup memiliki rumah, apartemen atau rumah susun.


Pemukiman di perkotaan (Foto Pribadi)

Tempat tinggal yang layak juga harus memenuhi beberapa faktor seperti cukup sinar matahari, ada sirkulasi udara, lantai yang sudah disemen, memiliki tempat pembuangan sampah, memiliki kamar mandi dan WC sendiri dan tentunya memiliki sumber air bersih yang layak untuk minum, cuci dan masak. 

Kelima adalah sarana pendidikan. Maju tidaknya suatu negara tergantung dari pendidikannya. Semakin banyak warganya yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, semakin besar penghasilannya. Sayangnya pendidikan di Indonesia menjadi ajang ujicoba.

Lihat saja kenyataan yang ada, pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan menerapkan kurikulum ganda yang satu menggunakan kurikulum 2013, sementara sekolah lainnya masih menggunakan kurikulum 2006. Dari materi saja tentu berbeda sehingga outputnya sudah dipastikan berbeda. 

Sekolahan tempat saya mengajar sudah bagus tetapi di tempat lain belum tentu (Foto Dokumen Pribadi)

Selain itu masih banyak sarana pendidikan yang kurang memadai dari bangunan sekolah yang tidak layak, media pembelajaran yang belum mendukung, dan masih banyak lagi lainnya. Belum lagi masih banyak tenaga pendidik honorer yang mendapatkan penghasilan di bawah UMR (Upah Minimum Regional) padahal mayoritas tenaga pendidik, pendidikannya sudah S1. 
Pendidikan juga tidak melulu pendidikan yang berhubungan dengan duniawi tetapi juga harus seimbang dengan pendidikan agama dan budi pekerti. Sehingga nantinya diharapkan para generasi muda bangsa Indonesia memiliki karakter sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Pendidikan juga harus merata hingga ke pelosok Indonesia. Untuk itu harus dibantu dengan adanya pemanfaatan teknologi canggih. Sehingga bagi mereka yang berada di pedalaman bisa belajar atau kuliah secara online dengan menggunakan akses internet. 

Mudah-mudahan dengan masukan-masukan tadi akan mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sehingga negara kita akan semakin maju di masa yang akan datang dan bisa bersaing dengan negara-negara lain bukan hanya level ASEAN tetapi juga dunia.

0 komentar:

Poskan Komentar test