Interaksi Antarruang dan Wilayah Indonesia
1. Geosfer dan Posisi Strategis Indonesia
1). Letak Astronomis dan Fenomena Iklim Global
Secara astronomis Indonesia terletak pada 60 LU – 110 LS dan 950 BT – 1410 BT. Letak Astronomis ini berdampak terhadap kondisi berikut ini:
Indonesia berada di zona pertemuan angin passat dari belahan bumi utara dan selatan (ITCZ/ Intertropical Convergence Zone). Hal ini menyebabkan terbentuknya “sabuk awan” yang membuat curah hujan di Indonesia sangat tinggi.
Indonesia berada di wilayah Doldrums (Wilayah Tenang). Hal ini menyebabkan wilayah Indonesia jarang terkena badai siklon tropis yang besar (seperti Taifun di Filipina atau Hurricane di Amerika) karena gaya Coriolis di khatulistiwa mendekati nol.
Indonesia memiliki tiga zona waktu (WIB, WITA, dan WIT). Setiap 150 pergeseran bujur setara dengan selisih waktu 1 jam. Kondisi ini secara ekonomi memengaruhi jam operasipnal bursa efek dan perdagangan nasional.
2). Letak Geografis
Secara geografis wilayah Indonesia berada di Posisi Silang karena terletak diantara Benua Asia dan Benua Australia, serta Samudera Hindia dan Pasifik. Letak geografis ini berdampak terhadap kondisi berikut ini:
Ketergantungan pelayaran internasional terhadap Indonesia karena memiliki 4 Choke Point (selat sempit) maritim dunia, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar. Keempat choke point ini sangat penting untuk pelayaran dunia, khususnya sebagai jalur pendistribusian perdagangan internasional.
Indonesia harus menyediakan jalur bagi kapal asing untuk melintasi perairan teritorial berdasarkan UNCLOS 1982. Jalur ini disebut ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia. Terdapat tiga ALKI sebagai jalur perlintasan tersebut, yaitu; 1) ALKI I (perairan Barat yang melintasi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Sunda, hingga Samudera Hindia); 2) ALKI II (perairan Tengah yang melintasi Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, dan Selat Lombok ke Samudra Hindia); 3) ALKI III (perairan Timur yang bercabang menjadi tiga (IIIa, IIIb, IIIc). Rute ini mencakup Samudra Pasifik, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai, Laut Sawu, dan berakhir di Samudra Hindia).
3). Letak Geologis: Pertemuan Tiga Lempeng Raksasa
Wilayah Indonesia adalah hasil "tabrakan" hebat. Wilayah ini berada di titik temu (Triple Junction) tiga lempeng: Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.
Dangkalan Sunda & Dangkalan Sahul: Dulu, Indonesia Barat menyatu dengan Asia (Sunda) dan Indonesia Timur menyatu dengan Australia (Sahul). Inilah alasan mengapa Gajah ada di Sumatera (tipe Asiatis) dan hewan berkantung ada di Papua (tipe Australis).
Busur Magmatik (Volcanic Arc): Tabrakan lempeng ini menciptakan deretan gunung api aktif dari Sumatera, Jawa, Bali, hingga Maluku. Di satu sisi ini bencana, tapi di sisi lain, abu vulkanik memberikan mineral (hara) yang membuat tanah kita paling subur di dunia.
Daftar Istilah Penting
Albedo: Kemampuan permukaan bumi (seperti hutan atau laut) untuk memantulkan kembali radiasi matahari.
Coriolis (Gaya): Gaya semu akibat rotasi bumi yang membelokkan arah angin; nilainya nol di khatulistiwa.
Dangkalan (Shelf): Wilayah laut dangkal (kedalaman < 200m) yang secara geologis merupakan kelanjutan dari massa daratan benua.
Garis Wallace: Garis khayal yang memisahkan persebaran fauna tipe Asia dan tipe Peralihan (di antara Kalimantan dan Sulawesi).
Garis Weber: Garis khayal yang memisahkan tipe Peralihan dan tipe Australia (di antara Sulawesi dan Papua).
Orogenesa: Proses pembentukan pegunungan akibat gerakan lempeng tektonik.
Ring of Fire: Jalur gunung api melingkar di Samudra Pasifik yang mencakup sebagian besar wilayah Indonesia.
UNCLOS 1982: Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang mengakui status Indonesia sebagai Negara Kepulauan (Archipelagic State).
2. Dinamika Litosfer dan Bentang Alam
1). Tenaga Endogen
Tenaga Endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang bersifat membangun/ membentuk bentang alam.
Tektonisme: Pergerakan lempeng di lapisan Astenosfer
Konvergen (Tabrakan): Di Indonesia, ini terjadi di selatan Jawa dan barat Sumatera (Zona Subduksi). Inilah yang membentuk palung laut dalam dan pegunungan tinggi.
Divergen (Pemisahan): Lempeng saling menjauh, menciptakan lantai samudra baru.
Transform (Berpapasan): Seperti Sesar Semangko di Sumatera. Ini sering menyebabkan gempa bumi darat yang sangat merusak.
Vulkanisme: Proses keluarnya magma ke permukaan
Intrusi Magma: Magma membeku di dalam (membentuk Batolit atau Lakolit). Penting secara ekonomi karena di sinilah logam mulia (emas, perak) sering terkonsentrasi.
Ekstrusi Magma: Magma keluar jadi lava. Di Indonesia, tipe gunung api yang paling dominan adalah Strato (berlapis), akibat erupsi yang berganti-ganti antara efusif (leleran/cair) dan eksplosif(ledakan)
Seisme: getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam bumi secara tiba-tiba.
2). Tenaga Eksogen
Tenaga Eksogen adalah tenaga yang berasal dari dari luar bumi yang bersifat merombak relief permukaan bumi yang sebelumnya telah terbentuk oleh tenaga endogen.
Pelapukan
Erosi
dan Sedimentasi
Fluvial, disebabkan oleh air sungai yang membentuk Meander dan Deltan.
Eolin, disebabkan oleh angin, seperti Gumuk Pasir di Parangtritis, Yogyakarta
Daftar Istilah Penting
Astenosfer: Lapisan di bawah litosfer yang bersifat plastis (agak lembek), tempat lempeng-lempeng tektonik "mengapung".
Delta: Endapan material yang terbawa arus sungai di muara laut, biasanya berbentuk kipas atau segitiga.
Eksfoliasi: Pengelupasan batuan karena perubahan suhu yang ekstrem (pelapukan fisik).
Graben (Slank): Bagian dari patahan bumi yang merosot ke bawah (lembah).
Horst: Bagian dari patahan bumi yang menyembul ke atas (punggungan).
Karst: Bentang alam yang terbentuk di daerah batugamping (kapur) yang mengalami pelarutan oleh air.
Meander: Kelokan sungai yang terbentuk akibat erosi dan sedimentasi yang tidak merata di tepian sungai.
Sesar (Fault): Patahan pada kulit bumi akibat tekanan tenaga endogen yang sangat kuat.
Zona Subduksi: Wilayah di mana satu lempeng tektonik masuk (menelusup) ke bawah lempeng lainnya.
3. Atmosfer dan Hidrosfer Indonesia
1). Atmosfer
Atmosfer Indonesia sangat unik karena negara ini berbentuk kepulauan yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan. Perairan yang luas menyediakn uap air yang tidak terbatas bagi atmosfer Indonesia.
Sirkulasi Moonsun yang menentukan musim di Indonesia
Monsun Barat (Desember-Februari): Angin dari Asia (tekanan tinggi) ke Australia (tekanan rendah) membawa banyak uap air. Hasilnya: Musim Hujan.
Monsun Timur (Juni-Agustus): Angin dari Australia yang kering menuju Asia. Hasilnya: Musim Kemarau.
ENSO (El Ñino Southern Oscillation), fenomena anomali suhu di Samudera Pasifik Ekuator yang memengaruhi dunia.
El Niño: Suhu laut di Indonesia mendingin, uap air lari ke Amerika Selatan. Indonesia mengalami Kekeringan Parah.
La Niña: Suhu laut di Indonesia sangat hangat, uap air melimpah. Indonesia mengalami Hujan Ekstrem dan banjir.
Kasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson, digunakan untuk menghitung rata-rata curah hujan di wilayah Indonesia. Cara menghitungnya Q=(Rata-rata bulan kering)/(Rata-rata bulan basah) x100%, dimana curah hujan bulan kering < 60 mm, sedangkan bulan basah > 100 mm.
2). Hidrosfer
Untuk memahami hidrosfer di wilayah Indonesia, kita akan membaginya menjadi empat, yaitu:
a. Pola aliran sungai
Dendritik: Seperti cabang pohon (terjadi di dataran rendah/batuan homogen).
Trellis: Seperti pagar (terjadi di daerah lipatan/pegunungan).
Radial Sentrifugal: Menyebar keluar dari satu titik (terjadi di puncak gunung api).
Radial Sentripetal: Mengumpul ke satu titik (terjadi di cekungan/basin).
b. Air tanah
Recgharge area : daerah tangkapan air hujan di hulu/ puncak pegunungan.
Infiltrasi : proses meresapnaya air hujan secara vertikal ke dalam tanah masuk melalui pori-pori tanah atau batuan.
Perkolasi : proses meresapnya air hujan secara vertikal - horizontal ke dalam tanah bergerak diatas batuan imperbeable di dalam tanah.
Run off : aliran air tanah permukaan yang bersumber dari air hujan.
Freatik: Air tanah :dangkal (sumur biasa)
Artesis: Air tanah dalam yang terjepit di antara dua lapisan batuan kedap air (impermeable) Jika dibor, air bisa memancar sendiri karena besarnya tekanan.
Evapotranspirasi : penguapan air yang berada di lautan, daratan, ditumbuhan.
c. Zona laut
Zona Litoral (Wilayah Pasang Surut): Area pantai yang tergenang air saat pasang dan kering saat surut.
Zona Neritik (Laut Dangkal): Kedalaman 0-200 meter. Sinar matahari masih menembus hingga dasar, menjadikannya zona terpadat bagi biota laut seperti ikan, rumput laut, dan plankton.
Zona Batial (Laut Dalam): Kedalaman 200-2000 meter. Sinar matahari tidak dapat menembus, suhu lebih dingin, dan kehidupan terbatas (contoh: hiu, paus, cumi-cumi).
Zona Abisal (Laut Sangat Dalam): Kedalaman lebih dari 2000 meter. Kondisinya gelap total, suhu sangat dingin, dan tekanan air sangat tinggi, sehingga hanya dihuni biota khusus.
Zona Hadal (Palung Laut/ trench.): Zona terdalam (lebih dari 6.000 meter) yang berbentuk palung. Diantaranya Palung Mariana, dan palung Mindanau (Filipina).
Jenis Hujan
Hujan Konvektif (Hujan Zenithal)
Proses: Terjadi karena pemanasan intensif di permukaan tanah oleh matahari, menyebabkan udara naik secara vertikal (konveksi), mendingin, dan terkondensasi menjadi awan cumulonimbus.
Karakteristik: Sering terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia, berlangsung singkat, intensitas tinggi, dan biasanya disertai petir di siang atau sore hari.
Hujan Orografis (Hujan Pegunungan)
Proses: Terjadi ketika udara yang membawa uap air terpaksa naik melintasi perbukitan atau pegunungan. Udara tersebut mendingin di ketinggian, kondensasi, dan turun sebagai hujan di lereng pegunungan yang berhadapan dengan arah angin.
Karakteristik: Sering terjadi di wilayah pegunungan dan menjadi penyebab tingginya curah hujan di kota-kota seperti Bogor.
d. Hujan Muson (Hujan Musiman)
Proses: Berkaitan dengan pergerakan angin muson yang dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara antara daratan Asia dan Australia.
Karakteristik: Hujan ini menyebabkan musim hujan (Oktober-April) saat angin muson barat membawa uap air tinggi dari Samudra Hindia.
4. Hujan Frontal
Proses: Terjadi akibat pertemuan dua massa udara yang berbeda suhu dan densitasnya, biasanya massa udara panas membawa uap air bertemu dengan massa udara dingin. Pertemuan ini menyebabkan udara panas terangkat dan kondensasi.
Karakteristik: Umumnya terjadi di daerah perbatasan cuaca atau sering terjadi di sebagian wilayah Indonesia ketika terjadi konvergensi massa udara.
Daftar Istilah Penting
Adveksi: Perpindahan panas secara horizontal melalui pergerakan massa udara (angin).
Daerah Aliran Sungai (DAS): Wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air ke laut.
Evapotranspirasi: Gabungan dari penguapan air di permukaan bumi (evaporasi) dan penguapan air dari jaringan tanaman (transpirasi).
Hujan Orografis: Hujan yang terjadi karena massa udara yang membawa uap air dipaksa naik ke lereng pegunungan.
Isobar: Garis pada peta cuaca yang menghubungkan tempat-tempat dengan tekanan udara yang sama.
Isohiet : garis-garis dipeta yang menunjukan tempat-tempat yang memiliki curah hujan yang sama.
Sirkulasi Walker: Sirkulasi udara di sepanjang ekuator yang naik di wilayah bertekanan rendah (Indonesia) dan turun di wilayah bertekanan tinggi (Pasifik Timur).
Termoklin: Lapisan air laut di mana suhu turun sangat drastis seiring bertambahnya kedalaman.
4. Potensi Sumber Daya Alam dan Kemaritiman
1). Pengklasifikasian Sumber Daya Alam
a. Berdasarkan Sifatnya (Kelestariannya) :
Sumber Daya Alam yang Dapat Diperbaharui (Renewable Resources): SDA yang dapat dibentuk kembali oleh alam dalam waktu relatif cepat dan jumlahnya melimpah. Contoh: Air, udara, tanah, hewan, tumbuhan, dan sinar matahari.
Sumber Daya Alam yang Tidak Dapat Diperbaharui (Non-renewable Resources): SDA yang jumlahnya terbatas karena proses pembentukannya memerlukan waktu ribuan hingga jutaan tahun. Contoh: Minyak bumi, batu bara, gas alam, dan mineral tambang (emas, besi).
b. Berdasarkan Jenisnya :
Sumber Daya Alam Hayati (Biotik): SDA yang berasal dari makhluk hidup. Contoh: Tumbuhan (hasil hutan, pertanian) dan hewan (peternakan, perikanan).
Sumber Daya Alam Nonhayati (Abiotik): SDA yang berasal dari benda mati. Contoh: Tanah, air, udara, barang tambang, dan sinar matahari.
c. Berdasarkan Potensi Kegunaannya
Sumber Daya Alam Materi: Dimanfaatkan dalam bentuk fisiknya. Contoh: Besi, kayu, serat kapas, emas.
Sumber Daya Alam Energi: Dimanfaatkan nilai kegunaannya sebagai energi. Contoh: Minyak bumi, gas bumi, batu bara, air terjun, sinar matahari.
Sumber Daya Alam Ruang: Berupa tempat atau ruang untuk beraktivitas. Contoh: Lahan atau tanah.
d. Berdasarkan UU No. 11 Tahun 1976 (Nilai Strategisnya) :
Golongan A (Strategis): Penting untuk kelangsungan hidup negara. Contoh: Minyak bumi, gas bumi, batu bara, nikel, timah.
Golongan B (Vital): Penting untuk perekonomian negara. Contoh: Emas, perak, tembaga.
Golongan C (Industri): Umumnya tidak langsung mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Contoh: Pasir, batu, batu kapur, tanah liat.
e. SDA Perpetual
Jenis SDA yang tidak pernah habis karena selalu ada di alam atau memiliki siklus yang terus menerus. Contoh: Energi matahari, angin, dan pasang surut air laut.
2). Ekonomi Biru (Blue Economy) dan Biodiversitas
Blue Economy: Penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, tanpa merusak ekosistem laut.
Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang): Indonesia adalah pusat dari wilayah ini. Memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Hal ini bukan hanya soal pariwisata, tapi juga sebagai apotek alam (bahan obat-obatan) dan penyerap karbon.
Hutan Mangrove: Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia. Fungsinya sangat krusial sebagai benteng alami dari tsunami dan penyerap emisi gas rumah kaca (blue carbon).
3. Poros Maritim Dunia dan UNCLOS 1982
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Kedaulatan laut Indonesia diatur oleh UNCLOS 1982 (United Nations Convention of Law of the Sea). Perhatikan beberapa istilah yang berkaitan dengan wilayah laut Indonesia berikut ini!
|
Zona Laut |
Jarak dari Garis Pangkal |
Hak Indonesia |
|
Laut
Teritorial |
12
Mil Laut |
Kedaulatan
penuh (udara, permukaan, dasar laut). |
|
Zona
Tambahan |
24
Mil Laut |
Hak
mencegah pelanggaran hukum bea cukai, fiskal, dan imigrasi. |
|
ZEE
(Zona Ekonomi Eksklusif) |
200
Mil Laut |
Hak
eksklusif mengeksplorasi SDA (ikan, minyak) dan riset. Kapal asing boleh
lewat tapi tak boleh ambil SDA. |
|
Landas
Kontinen |
Dasar
laut kelanjutan benua |
Hak
atas kekayaan dasar laut (bukan airnya). |
|
Jan |
Feb |
Maret |
April |
Mei |
Jun |
Jul |
Ags |
Sep |
Okt |
Nov |
Des |
|
250 |
220 |
180 |
140 |
80 |
45 |
30 |
25 |
40 |
110 |
190 |
230 |
















