ads

Mencium Bau Kentut Ternyata Baik untuk Kesehatan

Rabu, 17 September 2014
Mencium kentut ternyata baik untuk kesehatan
Peneliti dari University of Exeter, Inggris, mengatakan bahwa mencium bau kentut baik untuk Anda. Para peneliti menempatkan dengan cara tertentu dosis kecil hidrogen sulfida (H2S), gas berbau seperti telur busuk itu dapat membantu menjaga sel-sel untuk tetap sehat dan mengurangi risiko penyakit seperti demensia, diabetes, serangan jantung, stroke, bahkan penyakit kanker. 


Bau kentut bisa menjadi hal terbaik yang Anda lakukan hari ini, demikian dikatakan peneliti University of Exeter, Inggris. Para peneliti mengatakan hidrogen sulfida yang diproduksi dalam usus yang menyebabkan gas beracun dalam dosis besar, sebenarnya cukup bermanfaat tapi dalam jumlah lebih kecil. Secara khusus, hal itu mempertahankan mitokondria yang sangat penting untuk kehidupan sel. 


Meskipun hidrogen sulfida dapat dikenali dari baunya yang sangat tajam seperti bau telur busuk karena perut kembung, tapi secara alami diproduksi dalam tubuh dan sebenarnya bisa menjadi pahlawan kesehatan dengan implikasi yang signifikan untuk terapi berbagai penyakit pada masa depan," kata peneliti. 

Para peneliti tidak meminta orang-orang untuk mengendus-endus ke arah keluarnya kentut. Sebaliknya, mereka telah mengembangkan senyawa yang disebut AP39 dan memberikannya dalam dosis yang tepat untuk sel-sel. Hal ini dapat mencegah atau memperbaiki kerusakan mitokondria yang dianggap kunci untuk mengobati berbagai penyakit. 

Jika penelitian ini terbukti secara signifikan, Anda mungkin akan membayar atau berterima kasih kepada pria yang kentut seperti di tempat kerja, rumah, sekolah atau tempat lainnya karena telah menyelamatkan hidup Anda, demikian ditulis Laura Stamper kepada Time. 

2 komentar for Mencium Bau Kentut Ternyata Baik untuk Kesehatan:

  1. Di suatu daerah di Sumatera, buang angin bisa dianggap sangat tidak sopan dan bisa terjadi adu jotos. Tapi penemuan ini ternyata bisa sebagai nuansa penyeimbang

    BalasHapus
  2. tapi, apakah penelitiannya signifikan ??

    BalasHapus

Mari budayakan komentar dengan menggunakan kata-kata yang baik dan sopan tanpa spam