ads

IDByte 2015 dan Bubu Awards V.09 Kembali Digelar

Rabu, 08 Juli 2015
Press Conference IdByte 

Hari ini saya mendapatkan kesempatan berharga diundang oleh panitia IdByte 2015 yang akan menggelar seminar dan konferensi IDBYTE dan Bubu Awards V.09 pada tanggal 30 September hingga 2 Oktober 2015 mendatang. 

Kami diundang sebagai seorang blogger tekno bersama jurnalis ibukota. Tetapi sebagai blogger profesional saya sudah datang ketika acara belum mulai walaupun jarak ke Jakarta lumayan jauh dari tempat tinggal saya Indramayu.

Acara ini sendiri dimulai sekitar pukul 16.30-an diawali oleh pembaca acara yang membuka conference press IDByte dan dibuka oleh tuan rumah yakni perwakilan dari Binus School Management. Pada sambutannya dia mengungkapkan bahwa di Binus inovasi merupakan budaya sehingga sesuai dengan visi dan misi IDByte. 

Setelah sambutan dari Dekan Binus, acara dilanjutkan oleh Shinta Dhanuwardoyo atau Shinta Bubu yang mengulas tentang Visi dan Misi IDByte  mendukung perkembangan industri teknologi di Indonesia serta diharapkan dapat berkontribusi bagi perkembangan industri teknologi Indonesia. 

Dia juga mengungkapkan bahwa ajang Bubu Awards yang dia adakan merupakan ajang bergengsi untuk para pegiat digital di Indonesia. Sebelum acara puncak Bubu Awards 2015, IDByte mengadakan beberapa event di beberapa kota seperti Bandung, Surabaya, Makasar, Bali dan Jakarta. 

Tanggal 30 September dan 1 Oktober 2015 akan diadakan beberapa seminar di @America secara gratis sedangkan puncaknya akan dilangsungkan pada tanggal 2 Oktober 2015 yang tiketnya akan dijual disitusnya. 

Tema IDByte dan Bubu Awards 2015 ini adalah Conected e-Conomy. Alasannya karena semua bisnis adalah bisnis digital. Ada beberapa kategori penghargaan yang akan diberikan pada tahun ini seperti digital marketing awards, web category, digital talent, mobile apps, dan start up awards. 

Pemenang Start up awards kali ini nantinya akan diikutsertakan dalam boothcamp di Silicon Valley dan nantinya mereka akan diadakan audisi oleh para investor yang tidak hanya mendapatkan hadiah tetapi juga pendanaan start up yang dikembangkannya. 

Pada kesempatan ini Shina Bubu mengajak Bapak Ridwan Kamil dan Bapak Triawan Munaf karena mereka konsen dibidangnya masing-masing. Ridwan Kami konsen di Smart Citiesnya, sedang Triawan Munaf sebagai Ketua Badan Ekonomi Kreatif. 

Selepas penjelasan mengenai IDByte dan Bubu Awards oleh Shinta Bubu, acara dilanjutkan oleh penjelasan Ridwan Kamil mengenai Bandung Teknopolis. Ridwan Kamil iri dengan negara lain. Saat dia berkunjung ke China dia melihat para warganya menggunakan barang-barang buatan China, saat mengunjungi Jerman juga sama warganya menggunakan produk-produk Jerman.

Sementara ketika di Indonesia, hampir semua warganya menggunakan produk-produk dari luar negeri. Dia mencontohkan semua hadirin di sini pasti menggunakan produk-produk dari luar negeri seperti produk dari Korea, Amerika dan China. 

Indonesia menjadi negara yang kaya tetapi kaya dengan pengguna bukan sebagai inovator. Oleh karena itu dia menginginkan Bandung sebagai Silicon Valleynya Indonesia. Seperti di negara-negara lain yang memiliki satu kota teknologi dan inovasinya masing-masing. 

Dia mencontohkan berbagai persoalan warganya termasuk masalah mobil Uber yang akan diseminarkan untuk dibahas dari sisi positif dan negatifnya pada Hari Sabut mendatang. Dia juga menyambut Gojek untuk hadir di Bandung yang kebetulan Foundernya  Nadiem Makarim hadir di acara tersebut atas undangan walikota Bandung tersebut. 

Bandung akan mengadakan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar sekelas Facebook, Twitter dan lain-lain. Selain itu dia juga menginginkan Shinkasen atau kereta cepat dari Bandung ke Jakarta nantinya hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. 

Saat ini Bandung sudah memiliki 200 aplikasi yang ada di lingkungan pemerintah kota Bandung. Dia berharap ke depannya semua instansi bisa memiliki aplikasi yang terintegrasi satu sama lain. 

Bandung berharap ke depannya memiliki Silicon Valley di daerah Gede Bage dan pada kesempatan ini juga dia mengajak Binus untuk mendirikan universitas disana termasuk dengan asramanya. Sehingga mereka lebih efisien dan inovatif karena semuanya ada disitu. 

Saat ini Bandung sudah menerapkan semua perizinan di lingkungan pemerintah kota Bandung bisa dilakukan secara online dan meminimalisir pembayaran secara langsung untuk menghindari korupsi atau pungutan.     

Bandung juga sedang mempersiapkan aplikasi di Google Play khusus warga Bandung saat ada tindak kejahatan seperti begal dan lain-lain. Di aplikasi tersebut pengguna cukup menekan kode SOS atau Safe yang terhubung dengan pusat datanya yang terintegrasi dengan Kepolisian. Di aplikasi tersebut sudah terhubung dengan akses GPS sehingga memudahkan untuk pelacakannya. 

Aplikasi ini tentu tidak sembarangan digunakan, oleh karena itu penggunanya harus mendaftarkan terlebih dahulu identitas dan nomor teleponnya. Agar penggunanya tidak sembarangan menggunakannya dan bisa terhubung dengan keluarganya. 

(Ridwan Kamil, Triawan Munaf dan Shinta Bubu) 

Setelah pemaparan mengenai Bandung Teknopolisnya, acara dilanjutkan dengan pemaparan Bapak Triawan Munaf dari Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif). Permasalahan ekonomi kreatif yang menjadi kendala saat ini adalah masalah regulasi atau perizinan yang masih berbelit dan membutuhkan proses yang lama. 

Padahal ekonomi kreatif adalah masa depan kita. Saat ini Bekraf konsen pada 3 hal yakni FAM (Film, Aplikasi dan Musik). Indonesia sebenarnya mampu dan mempunyai kemampuan dalam ketiga bidang tersebut. Oleh karena itu dia mendukung acara IDBYTE dan Bubu Awards ini. 

Dia berharap tahun 2016 dana untuk ekonomi kreatif di Indonesia akan cair dan bisa digunakan untuk berbagai kegiatan dan mendukung acara-acara seperti ini serta mencari para start up-start up berprestasi di Indonesia.   



0 komentar:

Poskan Komentar test