Facebook Kembangkan Teknologi Penangkal Berita Hoax dan Konten Ilegal

Jumat, 02 Desember 2016
Facebook kembangkan teknologi penangkal berita hoax dan konten ilegal

Seperti kita ketahui bersama bahwa bahwa Facebook memiliki fitur video live atau siaran langsung pada aplikasi smartphonenya. Tetapi ternyata fitur tersebut banyak mendapat pro dan kontra seputar keputusan tentang isu-isu konten ilegal dan ofensif yang mungkin memerlukan perubahan kebijakan yang dibuat oleh para eksekutif puncak di perusahaan tersebut. 


Joaquin Candela, Direktur Perusahaan dari Penerapan Mesin Pembelajaran mengatakan kepada wartawan bahwa Facebook menggunakan kecerdasan buatan yang semakin ditingkatkan guna mencari materi ofensif. 


“Facebook membuat sebuah algoritma yang mampu mendeteksi konten berisi adegan telanjang, kekerasan, atau salah satu dari hal-hal yang tidak sesuai dengan kebijakan kami" demikian ungkap Candela. 

Perusahaan sudah bekerja dengan menggunakan otomatisasi untuk konten video ekstrimis, seperti yang dilaporkan oleh Reuters pada bulan Juni lalu. Sekarang sistem otomatis sedang diujicoba pada Facebook Live (Langsung), layanan video streaming bagi pengguna yang dapat menyiarkan video secara langsung. 

"Dengan menggunakan kecerdasan buatan tersebut Facebook dapat meneliti video live atau langsung, akan tetapi Facebook memiliki dua tantangan, kata Candela, yang satu algoritma dari visi komputer Anda harus cepat, dan saya pikir kami bisa mendorongnya di sana, dan yang kedua adalah Anda harus memprioritaskan hal-hal dengan cara yang benar sehingga manusia melihat hal itu, seorang ahli akan mengerti dengan kebijakan kami.” ucap Candela. 

Facebook mengatakan dengan menggunakan sistem otomatisasi maka bisa dipastikan akan  memproses puluhan juta laporan dalam setiap minggunya, untuk mengenali, menduplikasi laporan dan menandai konten pengulas dengan keahlian materi yang sesuai. 

Chief Executive Officer Mark Zuckerberg pada bulan November lalu mengatakan Facebook akan beralih ke otomatisasi sebagai bagian dari rencana untuk mengidentifikasi berita hoax atau berita palsu. Seperti pada saat pemilihan presiden Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu yang mengatakan seorang agen federal telah menyelidiki kandidat Demokrat Hillary Clinton yang ditemukan tewas. 

Yann LeCun, direktur Facebook peneliti AI, menolak untuk mengomentari menggunakan AI untuk mendeteksi berita palsu, namun mengatakan dalam perbaikan umpan balik berita secara umum menimbulkan pertanyaan antara filtering dan sensor, kebebasan ekspresi, kesopanan dan kebenaran. Demikian seperti dikutip dari Daily Mail (01/12/2016).

0 komentar:

Posting Komentar test