Lupa KTP Cukup Selfie Untuk Masuk Ke Obyek Wisata Ini

Selasa, 03 Januari 2017
Teknologi pengenalan wajah dari Baidu

Jika di Indonesia untuk masuk ke obyek wisata harus membeli tiket dan tidak diwajibkan menggunakan KTP saat memasuki obyek wisata tersebut, tetapi berbeda dengan dengan China untuk memasuki obyek wisata Anda harus membawa tiket dan membawa kartu identitas. 


Sifat manusia yang pelupa biasanya selalu saja ada pada saat terburu-buru sehingga untuk memasuki obyek wisata di China tidak bisa dilakukan. Beruntung kini ada teknologi terbaru dari Baidu. Baidu adalah sebuah perusahaan teknologi yang berasal dari China, sedang menguji teknologi pengenalan wajah di Wuzhen pekan lalu. Wuzhen merupakan sebuah kota bersejarah dengan arsitektur dan gaya klasik yang dikunjungi jutaan wisatawan setiap tahunnya. 


Teknologi ini dapat mempersingkat waktu menunggu untuk masuk ke obyek wisata tersebut karena pengecekan kartu identitas, serta dapat menambahkan kenyamanan bagi para tamu. Jadi pengunjung merasakan jauh lebih cepat setelah menggunakan teknologi dari Baidu ini. 

Di gerbang masuk mereka menempatkan sebuah tablet yang menghadap ke pengunjung yang datang, mereka cukup difoto dan diunggah ke database. Setelah itu data pengunjung akan muncul melalui beberapa frame di mana kecerdasan buatan tersebut dapat mengidentifikasi jika orang tersebut sedang dicari oleh pihak berwajib. Semua ini hanya membutuhkan waktu 0,6 detik, dan menurut Baidu teknologi ini akurat 99,77%. 

Teknologi biometrik untuk otorisasi sebenarnya bukanlah hal baru. Scanner sidik jari telah lama digunakan, tetapi mereka tidak selalu efektif. Sebagai contoh, teknologi scanner sidik jari lebih sulit terutama untuk mengotorisasi pada pengguna orang tua karena terjadi penuaan dan perubahan pada ujung jari. 

Sementara itu, beberapa teknologi iris-scanning (pengenalan bola mata) bisa diakali dengan mencetak foto dari mata manusia. Sementara Teknologi Baidu, dapat mendeteksi ketika seseorang telah meninggal atau pun masih hidup sehingga seseorang tidak bisa mengalahkan sistem. 

Baidu bukan satu-satunya perusahaan pengenalan wajah seseorang untuk otentikasi. Microsoft telah menggunakannya untuk penggunanya masuk ke beberapa tablet Surface dengan teknologi pengenalan wajah. 

Pada bulan September 2016 lalu, Uber mulai mewajibkan pengemudi di Amerika Serikat untuk mengambil foto selfie sebelum perjalanan pertama pada hari itu untuk mencegah penipuan dan melindungi akun pengemudi. Jika foto sopir tersebut tidak sesuai apa yang ada di berkas, Uber akan memblokir akun tersebut sampai situasi teratasi. 

MasterCard juga telah mengujicoba penggunaan teknologi pengenalan wajah untuk memverifikasi identitas pemegang kartu kreditnya yang belanja secara online agar lebih mudah. Mereka akan secara resmi meluncurkan program ini pada semester pertama 2017. 

Andrew Ng Ketua Ilmuwan Baidu mengatakan Baidu akan memungkinkan mitra untuk menggunakan teknologi ini. Salah satunya adalah dengan mengembangkan cara untuk menggunakannya saat masuk ke rumah. Daripada mengandalkan kunci fisik atau menekan kode ke pintu, maka dengan cara ini pintu otomatis terbuka setelah wajahnya dikenali. 

Andrew Ng juga membayangkan teknologi ini juga bisa berguna untuk penyewaan jangka pendek. Dia juga melihat teknologi pengenalan wajah untuk mencegah penjualan tiket palsu. Ketika Anda membeli tiket untuk suatu acara, penyelenggara memerlukan gambar wajah Anda dan kemudian memverifikasinya ketika Anda mencoba untuk masuk tempat tersebut. 

Teknologi ini bisa digunakan untuk membantu mitra di China dengan memberikan pinjaman kepada nasabah melalui smartphone. Perusahaan menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk mengkonfirmasi siapa yang menggunakan ponsel, bukan mengandalkan password seperti dikutip dari Didno76.com dari CNN (17/11/2016).

0 komentar:

Posting Komentar test