Perkenalkan Cagar Budaya Indonesia Kepada Pelajar, Atau Mereka Tidak Pernah Tahu Selamanya

Monday, November 18, 2019
Benteng Fort De Bescherming (Dok. Indramayu Kota Mangga)

Nama saya Didno, saya sehari-hari sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di salah satu SMP di Kabupaten Indramayu. Selain sebagai seorang guru saya juga sering traveling tidak hanya di Indramayu tetapi ke berbagai daerah di Indonesia untuk sumber tulisan di blog. 

Tempat wisata yang pernah saya kunjungi diantaranya adalah Cirebon. Kota dengan sebutan Kota Udang tersebut memiliki banyak bangunan tua atau Cagar Budaya yang lokasinya berdekatan yang pada bagian depannya bertuliskan bangunan cagar budaya seperti Gedung BAT Cirebon, Gedung Pos Indonesia Cirebon, Bank Indonesia Cirebon, Gereja Santo Yusuf Cirebon, Gereja Kristen Pasundan, Gedung Cipta Niaga.
Cagar Budaya di Cirebon (Dok. Pribadi)

Selain itu di Kota Cirebon juga terdapat banyak bangunan-bangunan bersejarah peninggalan para wali yang menyebarkan agama Islam di Cirebon, tempat ibadah agama Budha dan Konghuchu seperti Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, Masjid Cipta Rasa, Vihara Dewi Welas Asih, Klenteng Talang, Vihara Pemancar Keselamatan dan lain-lain. 

Bangunan Bersejarah di Cirebon (Dok. Pribadi)

Kota lain yang pernah saya kunjungi adalah Semarang. Di kota Semarang ini saya pernah berkunjung ke beberapa obyek wisata yang kini banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara seperti Lawang Sewu, Gereja Blenduk, dan Kota Lama Semarang. 

Cagar Budaya di Semarang (Dok. Pribadi)

Kota yang sering dikunjungi untuk berbagai kegiatan termasuk kegiatan blogger, wisata atau kegiatan lainnya adalah Jakarta. Salah satu lokasi yang banyak bangunan tua yang merupakan cagar budaya adalah di Kota Tua Jakarta. Di tempat ini selain bisa menikmati keindahan kota tua juga bisa belajar tentang banyak hal termasuk sejarah perjuangan bangsa Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Cagar Budaya di Jakarta

Selain itu, ada kota yang hampir setiap tahun dikunjungi karena ditugaskan untuk membimbing peserta didik mengikuti Study Tour yakni Kota Yogyakarta. Salah satu obyek wisata yang dikunjungi dan termasuk dalam cagar budaya adalah Benteng Vredeburg, Keraton Yogyakarta, Taman Sari Yogyakarta dan lain-lain.


Pada saat mengunjungi obyek wisata di Yogyakarta tersebut, saya sempat mengabadikan tempat-tempat bersejarah tersebut dengan membuat video yang dipublikasikan di Youtube agar bisa dilihat oleh peserta didik yang ada di sekolah atau untuk dilihat untuk masyarakat luas sebagai media pembelajaran. 


Saya juga menyukai hal-hal tentang asal-usul manusia atau peradaban manusia di Indonesia. Saya bersama rekan-rekan pernah mengunjungi Situs Manusia Purba Sangiran. Kegiatan ini tentu sangat bermanfaat bagi saya yang mengajar sejarah di kelas. Bukan hanya berdasarkan buku-buku saja tetapi melihat secara langsung di lokasi yang sebenarnya. 

Situs Manusia Purba Sangiran (Dok. Pribadi)

Tidak hanya itu, saya juga pernah berkunjung ke Mojokerto Jawa Timur untuk melihat bangunan-bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit. Baik yang tersimpan di Museum Majapahit atau banguna-bangunan seperti Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu, dan lain-lain. 


Tapi hal ini berbeda jauh dengan keadaan di daerah sendiri. Saya merasa sedih melihat nasib cagar budaya yang ada di Indramayu. Beberapa bangunan tua yang memiliki sejarah pada saat penjajahan Belanda dan Jepang kini keadaannya terbengkalai.

Puing-puing Benteng Fort De Bescherming atau Goa Lindungan yang tidak terurus lagi (Dok. Pribadi) 
Bahkan benteng yang bersejarah saat pertempuran antara tentara Jepang dengan bangsa Indonesia, kini kondisinya sudah rata dengan tanah. Hanya tersisa batu-batu berserakan dan dibiarkan begitu saja tidak ada yang peduli dengan keadaan tersebut. 

Bangunan museum ini menjadi polemik antara berbagai instansi (Dok. Pribadi)

Selain itu ada beberapa bangunan masih menjadi polemik antara pemerintah daerah, dengan pemilik atau pewaris dari bangunan tersebut serta pegiat budaya. Pasalnya banyak bangunan yang masuk dalam cagar budaya dibangun kembali atau direnovasi tanpa memikirkan nasib cagar budaya tersebut.

Mungkin saatnya saya dengan teman-teman pegiat dan pencinta cagar budaya untuk melakukan aksinya, salah satunya dengan mengedukasi apa itu cagar budaya?. Dan bagaimana cara mengatasi permasalahan cagar budaya yang ada di Indramayu khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Mengedukasi Masyarakat Tentang Cagar Budaya

Salah satu cara yang dilakukan oleh saya adalah mengedukasi pelajar di sekolah tentang apa itu Cagar Budaya dan membagikan informasi kepada masyarakat tentang Cagar Budaya di blog dan media sosial.

Candi Tikus (Dok. Pribadi)

Berdasarkan Undang-undang No.11 Tahun 2010 Pasal 1, Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Candi Brahu (Dok. Pribadi)

Ada kriteria bangunan atau benda yang disebut dengan cagar budaya. Diantaranya adalah berusia lebih dari 50 tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan.

Benda-benda yang ada di Museum Bandar Cimanuk Indramayu (Dok. Pribadi)

Benda disebut dengan benda cagar budaya dengan ketentuan yakni berupa benda alam dan atau benda buatan manusia yang dimanfaatkan oleh manusia, serta sisa-sisa biota yang dapat dihubungkan dengan kegiatan manusia dan atau dapat dihubungkan dengan sejarah manusia; bersifat bergerak atau tidak bergerak; dan merupakan kesatuan atau kelompok. Sebagai contoh benda-benda yang ada di Museum Majapahit ini.


Sementara itu bangunan layak disebut dengan bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan atau tidak berdinding, dan beratap. Selain itu bisa berunsur tunggal atau banyak, atau berdiri bebas atau menyatu dengan formasi alam. Ada banyak contoh bangunan cagar budaya seperti Gapura Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Brahu dan lain-lain. 

Gapura Bajang Ratu (Dok. Pribadi)

Sedangkan Struktur Cagar Budaya adalah struktur susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia, sebagai contohnya adalah Kolam Segaran yang lokasinya di seberang Museum Majapahit. 

Kolam Segaran di Mojokerto (Dok. Pribadi)
Selain itu ada juga yang disebut dengan Situs Cagar Budaya. Situs Cagar Budaya adalah situs yang lokasinya mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan Struktur Cagar Budaya, atau menyimpan informasi kegiatan manusia pada masa lalu.

Candi Prambanan (Dok. Pribadi)

Kawasan Cagar Budaya sendiri harus mengandung 2 Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan; berupa lanskap budaya hasil bentukan manusia berusia paling sedikit 50 tahun; memiliki pola yang memperlihatkan fungsi ruang pada masa lalu berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun, memperlihatkan pengaruh manusia masa lalu pada proses pemanfaatan ruang berskala luas, memiliki lapisan tanah terbenam yang mengandung kegiatan manusia atau endapan fosil.

Ajak peserta didik mengunjungi cagar budaya yang ada di sekitar tempat tinggal, atau apabila memungkinkan mengunjungi cagar budaya yang ada di daerah lain. Saya sudah mengajak anak-anak melihat-lihat cagar budaya yang ada di daerah sendiri yakni Indramayu. 

Mengajak peserta didik melihat Kota Tua Indramayu (Dok. Pribadi)
Peran Serta Masyarakat Melestarikan Cagar Budaya 

Masyarakat dapat berperan serta dalam pelestarian cagar budaya, dengan cara melaporkan kerusakan/hilang/musnahnya cagar budaya kepada instansi yang berwenang. Selain itu apabila menemukan benda cagar budaya maka wajib melaporkan temuan cagar budaya tersebut kepada instansi yang berwenang.

Setiap orang dapat melakukan pencarian cagar budaya melalui penelitian dengan izin pemerintah/pemerintah daerah. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam melakukan pendaftaran cagar budaya bekerjasama dengan pemerintah kabupaten atau kota.

Masyarakat umum dapat berperan serta melakukan pelindungan, pengembangan cagar budaya dengan izin pemerintah atau pemda dan pemilik yang menguasai lokasi tersebut. Masyarakat luas dapat memanfaatkan cagar budaya untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan pariwisata dengan izin Pemerintah atau Pemda Agar cagar budaya tidak musnah.

Taman Sari Yogyakarta (Dok. Pribadi)


Mengoptimalkan Tugas dan Wewenang Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 

Agar cagar budaya tetap lestari maka pemerintah dan pemerintah daerah harus melakukan langkah-langkah diantaranya adalah melakukan Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Cagar Budaya dengan cara mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan, serta meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab akan hak dan kewajiban masyarakat dalam pengelolaan Cagar Budaya.

Selain itu mengembangkan dan menerapkan kebijakan yang dapat menjamin terlindunginya dan termanfaatkannya Cagar Budaya, menyelenggarakan penelitian dan pengembangan Cagar Budaya, menyediakan informasi Cagar Budaya untuk masyarakat, menyelenggarakan promosi Cagar Budaya, memfasilitasi setiap orang dalam melaksanakan pemanfaatan dan promosi Cagar Budaya.

Candi Borobudur (Dok. Pribadi)

Selain itu pemerintah pusat atau pemda menyelenggarakan penanggulangan bencana dalam keadaan darurat untuk benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan yang telah dinyatakan sebagai Cagar Budaya serta memberikan dukungan terhadap daerah yang mengalami bencana, melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap pelestarian warisan budaya, dan mengalokasikan dana bagi kepentingan pelestarian Cagar Budaya.

Mudah-mudahan dengan keterlibatan pemerintah, akademisi dalam hal ini Balai Arkeologi (Balar) yang memiliki tugas pencarian benda-benda arkeologi, analisis dan interpretasi benda-benda arkeologi, perawatan dan pengawetan benda arkeologi hasil penelitian,serta publikasi dan dokumentasi hasil penelitian benda-benda arkeologi, dan masyarakat, akan membuat Cagar Budaya yang ada di Indonesia tetap lestari dan keturunan kita masih bisa melihat peninggalan-peninggalan tersebut. Ayo lestarikan Cagar Budaya Indonesia.   

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah. Ayo blogger Indonesia ikutan lombanya.




4 comments for Perkenalkan Cagar Budaya Indonesia Kepada Pelajar, Atau Mereka Tidak Pernah Tahu Selamanya:

  1. Salut buat pak Guru. Ini memang perlu dilakukan agar peserta didik tahu, dan kenal dg kekayaan cagar budaya yg dimiliki negeri ini. Dengan begini semoga timbul rasa bangga dan cinta akan tanah air serta muncul keinginan untuk turut serta menjaga cagar budaya indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah-mudahan saya terus konsisten untuk memperkenalkan cagar budaya Indonesia kepada peserta didik saya

      Delete
  2. Wow banyak sekali ya, ini hanya di Pulau Jawa saja, belum lagi cagar budaya yg ada di daerah2 lainnya.
    Semangat buat Indonesia menjaga cagar budaya seperti ini, jangan sampai musnah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget mel.. semoga kita bisa menjaga Cagar Budaya Indonesia

      Delete

Silakan berkomentar dengan menggunakan kata-kata yang baik dan sopan tanpa spam