Ini Penyebab Tik Tok Diblokir Pemerintah Indonesia

Rabu, 04 Juli 2018
Foto Instagram Bowo Mondardo atau Bowo Alpenliebe

Demam aplikasi Tik Tok sebenarnya sudah terasa dalam beberapa bulan belakangan ini. Aplikasi yang sangat digandrungi oleh kalangan anak muda ini menarik karena bisa digunakan untuk menyanyi lipsync menirukan lagu yang pernah hit atau sedang ngehit. 


Ditambah lagi para pengguna Tik Tok banyak yang tergila-gila dengan salah satu penggunanya yakni Bowo Alpenliebe atau Prabowo Mondardo yang menurut mereka memiliki wajah imut-imut seperti Iqbaal Ramadhan dengan kulit putih dan gaya yang keren abis. 


Sampai-sampai ada acara Meet and Greet dengan bintangnya Bowo Alpenliebe di bilangan Jakarta. Tidak tanggung-tanggung untuk acara tersebut, penggemarnya harus mengeluarkan uang sebesar 80 ribu untuk bisa bertemu Bowo dan foto bersama dia. 

Setelah penggemar mentransfer uangnya baru mereka akan diberikan lokasi Meet and Greet dengan Bowo Alpenliebe. Padahal orang tuanya Bowo sendiri tidak mengetahui ada Meet and Greet tersebut. Dan Bowo sendiri tidak mendapatkan apa-apa dari Meet and Greet tersebut. Bowo hanya dimanfaatkan oleh beberapa oknum yang ingin meraup rupiah dari ketenaran Bowo Alpenliebe. 

Banyaknya pemberitaan di media sosial yang menuliskan kekagumannya kepada Bowo Alpenliebe yang tidak sewajarnya membuat netizen geram dan marah apalagi dari unggahan-unggahan di media sosial tersebut sudah melanggar norma etika dan agama yang ada di Indonesia. 

Atas dasar itulah aplikasi diblokir oleh pemerintah sejak Selasa siang (03/07/2018) demikian diungkap Semuel Abrijani Direktur Jenderal Aplikasi Informasi Kominfo. “Sebagai aplikasi media sosial yang user generated, Tik Tok seharusnya punya mekanisme bagaimana membuat standar konten dan bagaimana mencegah dan menyelesaikan apabila ada konten yang melanggar undang-undang kita," ungkap Semuel. 

Menurutnya, Kominfo telah mengontak Tik Tok untuk meminta penjelasan, tapi belum ada balasan. Per Selasa (3/7) sore, Tik Tok masih dapat dibuka di aplikasi Google Play, tapi tidak dapat dibuka di browser dari beberapa provider dengan tulisan "Situs Terlarang". 

Warganet pun ada yang setuju ada pula yang tidak setuju soal pemblokiran Tik Tok. Ada yang setuju ada pula yang tidak setuju dengan pemblokiran Tik Tok. Persoalan mental dan kebiasaan pengguna media sosial sendiri yang harusnya dibenahi. Kebiasaan menggemari idola boleh saja asal jangan berlebihan. 

Begitu juga dengan kebiasaan penggunaan media sosial apapun sebenarnya kembali kepada pengguna itu sendiri. Maksud dari pembuatnya tentu ingin membuat aplikasi yang bisa menghibur atau menghubungkan antara sesama penggemar musik tetapi kenyataannya banyak yang disalahkan gunakan termasuk untuk pornografi. 

Dari permasalahan ini ada beberapa poin yang harus kita sikapi, pertama perhatikan dan awasi anak-anak kita saat menggunakan media sosial. 

Kedua, ajak mereka berbicara dan bersosialisasi dengan mengarahkan kepada hal-hal yang positif tidak melulu bergaul dengan gadget. 

Ketiga, jangan bully anak yang di bawah umur karena psikis dan emosionalnya masih sangat labil, oleh karena itu beri motivasi kepada mereka untuk melakukan hal-hal lain yang lebih positif seperti olahraga atau seni lainnya.  

Keempat, orang dewasa atau orang tua harus menjadi contoh bagi anak-anaknya termasuk dalam bermedia sosial. Jangan sering mengumbar kata-kata tidak sopan, menghina atau menghujat orang lain karena itu akan ditiru oleh anak-anak kita. 

Mudah-mudahan pengguna media sosial di Indonesia semakin bijak menggunakan media sosial untuk kebaikan dan hiburan yang tidak menyinggung agama, atau melanggar etika.

0 komentar:

Posting Komentar test