Kecerdasan Manusia vs Kecerdasan Buatan

Saturday, April 6, 2019
Kecerdasan Manusia Vs Kecerdasan buatan (Gambar Sputniknews.com)

Dunia pada saat ini seakan-akan tidak punya batas lagi (Borderless World). Saat ini, penemuan mesin pencari yang lengkap dengan kecerdasan buatan membuat semuanya menjadi mudah. Teringat pada zaman 80-90-an dimana banyak bermunculan jasa penerjemah, jasa pengetikan, dan rental komputer pada saat itu menjamur. 

Namun saat ini, semuanya tersingkirkan oleh satu sumber yang bernama Google. Lewat teknologi kecerdasan buatannya saat ini rasanya tidak diperlukan jasa penerjemah karena sudah ada google translate yang mampu menerjemah dengan keakuratan yang tinggi.

Saat ini pun tidak lagi diperlukan jasa pengetikan sebab Google sudah menyediakan alat yang bisa mengetik apa yang kita katakan. Rental komputer yang dahulu berjaya saat ini sudah tersingkirkan oleh satu benda yang bernama telepon genggam yang mampu mengerjakan semua pekerjaan. 

Menjadi penduduk di zaman 4.0 (masyarakat informasi) memang serba mudah, pekerjaan semakin mudah. Namun, hal ini juga akan menjadi sumber masalah bagi manusia. Pekerjaan manusia kini banyak tergantikan oleh perangkat lunak (software), alat komunikasi, dan gawai pintar lainnya. Ilmu pengetahuan yang tadinya sulit kini menjadi terasa lebih mudah. Pencarian sumber ilmu pengetahuan semakin mudah dengan adanya mesin pencari. 

Jepang malah sudah menjadi pendahulu dengan memulai memasuki era 5.0 (Internet of Things). Masyarakat Jepang sudah memulai membuat segala sesuatu dengan menggunakan kecerdasan buatan yang dihubungkan dengan big data di Internet. Segala sesuatu menjadi mudah, bahkan untuk mengerjakan pekerjaan yang sederhana pun dikerjakan oleh internet. 

Membuka pintu rumah atau bahkan menyiram tanaman bukan merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia, kini yang mengerjakannya adalah sistem dan internet dan dikendalikan oleh telepon genggam. 

Tantangannya di masa sekarang apakah nantinya manusia akan malas untuk bergerak, malas untuk bekerja, atau akankan seluruh pekerjaan manusia akan tergantikan. Kalau saya merefleksikan film bertema sains fiksi (Sci-Fi) berjudul “Terminator” yang mengisahkan perang antara manusia dengan robot, saya jadi berangan-angan mungkinkah itu akan terjadi di masa depan. 

Saya rasa hal tersebut juga tidak akan terjadi dalam skala seperti “Terminator” (perang fisik), tetapi skala “pertempuran yang lebih kecil akan terjadi yaitu tidak ada lagi pekerjaan bagi manusia. Tidak adanya pekerjaan manusi aakan berdampak pada perekonomian manusia. Manusia akan semakin sulit memenuhi kebutuhan hidupnya karena tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki persaingan karena kalah bersaing dengan robot yang memiliki kecerdasan diatas kecerdasan manusia. 

Upaya untuk mengatasi tantangan tersebut adalah para siswa perlu belajar mengembangkan karakter-karakter yang positif, belajar seni budaya, estetika sehingga manusia punya daya saing kreatif dalam mengantisipasi tantangan di masa depan. 

Hal yang menjadi refleksi saya adalah tugas saya sebagai guru dan kita sebagai salah satu kesatuan pendidik adalah kita perlu menyiapkan siswa yang punya karakter yang beriman, tangguh, dan kreatif dalam menghadapi tantangan. 

Sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial tantangan kita adalah tetap mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan sesama tidak hanya membutuhkan gawai pintar sebagai “pegangan”. 

Tulisan dari Bapak Renol Darmawan Guru SMP Santo Yusuf Bandung.

0 comments:

Post a Comment test