Materi IPS Kelas 7 Tema 02 Keberagaman Lingkungan Sekitar

Saturday, April 30, 2022

 


Tujuan dan Indikator Capaian Pembelajaran

Pada “Tema II: Keberagaman Lingkungan Sekitar”, peserta didik diharapkan mampu: 


• Membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena lingkungan sekitar sebagai proses geografis.

• Mengenal/mengidentifikasi kehidupan masyarakat masa praaksara pada aspek sosial-ekonomi.

• Menjelaskan proses interaksi sosial berdasarkan karakteristik ruang.

• Membandingkan persamaan dan perbedaan suatu lokasi berdasarkan  kondisi alam dan komposisi penduduknya)

• Menganalisis perubahan karakterisitik lokasi dari waktu ke waktu berdasarkan aspek fisik dan sosial. 


A. Berkenalan dengan Lingkungan Sekitar

1. Berkenalan dengan Alam

Benda pada gambar di atas merupakan peninggalan dari aktivitas  manusia sebelum mengenal aksara/tulisan (praaksara). Pada zaman  tersebut, kehidupan manusia masih menggunakan benda-benda yang  ada di sekitar. Kehidupan primitif masih menjadi aktivitas sehari-sehari  dari manusia. Namun demikian, teknologi yang digunakan seperti bendabenda yang diciptakan sudah canggih di zamannya. Beberapa peradaban  meninggalkan benda-benda tersebut hingga saat ini dan memberikan manfaat bagi aktivitas manusia.


Bumi kita sudah sangat tua dan banyak mengalami kerusakan. Pemanasan global (global warming), efek rumah kaca, polusi udara, air, dan tanah merupakan contoh yang dapat merusak bumi. Kerusakan bumi banyak disebabkan oleh perilaku manusia. Beberapa aktivitas yang menimbulkan kerusakan antara lain, penggunaan teknologi yang menghasilkan polusi, aktivitas membakar hutan atau menebang pohon sembarangan, dan membuang sampah sembarangan. 

Ketika awal penciptaan makhluk hidup, kondisi memengaruhi perkembangan bumi kita sudah stabil dan dapat ditempati dengan baik oleh makhluk hidup. Proses perkembangan bumi sebagai pembabakan sejarah berdasarkan ilmu geologi dibagi ke dalam empat zaman, antara lain:

a. Zaman Arkaekum/Arkeozoikum

Zaman Arkaekum merupakan zaman tertua yang berlangsung sekitar 2.500 juta tahun lalu. Pada zaman ini, keadaan bumi belum stabil. Suhu bumi masih sangat tinggi dan tanda-tanda kehidupan belum muncul. 

b. Zaman Primer/Paleozoikum

Paleozoikum atau zaman hidup tua telah berlangsung sekitar 340 juta tahun lalu. Pada zaman ini, mulai ada tanda-tanda kehidupan yang ditandai dengan kemunculan makhluk hidup berupa organisme bersel satu. 

c. Zaman Sekunder/Mesozoikum

Zaman Mesozoikum adalah zaman hidup  pertengahan yang sudah berlangsung  sekitar 140 juta tahun silam. Pada zaman ini  muncul hewan-hewan reptil besar seperti  dinosaurus, Oleh karena itu, zaman ini  dikenal juga dengan zaman reptil 



d. Zaman Hidup Baru/Neozoikum

Pada zaman hidup baru dapat dibedakan menjadi dua zaman antara lain:

• Tersier

Zaman tersier terjadi sekitar 60 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini  dinosaurus telah punah dan mulai berkembang jenis binatang menyusui atau mamalia. 

• Kuartier

Zaman kuartier mulai terdapat tanda-tanda kehidupan manusia. Pada  zaman ini merupakan zaman terpenting bagi kemunculan aktivitas manusia

Kalian sebagai manusia senantiasa berinteraksi dengan lingkungan  alam. Alam merupakan sumber dari kebutuhan yang dibutuhkan oleh  manusia. Alam menyediakan kebutuhan manusia seperti barang-barang  tambang diantaranya logam, minyak, dan barang tambang lainnya sebagai  bahan dasar untuk membuat benda-benda seperti kendaraan bermotor. 

Hal tersebut merupakan dampak positif sebagai hubungan antara manusia  dan alam yang baik. Tetapi, interaksi antara kalian sebagai manusia dan  lingkungan juga dapat menimbulkan konsekuensi berupa pencemaran  lingkungan sebagai dampak negatif. Sebagai contoh, manusia mempunyai tingkah laku dan mempunyai aktivitas ekonomi yang menghasilkan emisi gas pencemaran yang terjadi di bumi. Dampak dari pencemaran lingkungan tersebut yaitu munculnya berbagai penyakit hingga kematian.


Berikut merupakan beberapa contoh pencemaran sebagai akibat interaksi manusia dengan alam yang bersifat merusak:

Pencemaran Udara

Pencemaran udara dapat terjadi karena emisi gas yang dihasilkan  selama proses pembakaran. Hasil pembakaran tersebut menghasilkan gas karbon dioksida (CO2). Kandungan CO2 yang tinggi di lapisan udara bumi (atmosfer),  berdampak kepada terciptanya efek rumah kaca. Akumulasi emisi gas mengakibatkan pancaran panas matahari terperangkap di lapisan udara bumi, sehingga terjadi kenaikan suhu di permukaan  bumi.


Pencemaran Air

Tingginya konsentrasi zat-zat berbahaya yang terkandung dalam zat air mengakibatkan pencemaran air. Konsentrasi zat-zat tersebut telah berlangsung lama sehingga menimbulkan dampak tertentu. Pencemaran air dapat terjadi karena penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan, dan limbah industri yang dibuang sembarangan. Air memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Berbagai aktivitas manusia seperti memasak, mencuci, dan mandi membutuhkan air. Perairan yang tercemar dapat berdampak pada kesehatan manusia, berkurangnya ketersediaan  air bersih, dan mengganggu keseimbangan ekosistem air.

Pencemaran Tanah

Pencemaran tanah disebabkan karena tanah kehilangan komponen penting sebagai daya dukungnya. Penggunaan pestisida yang berlebih dan  pembuangan limbah industri ke tanah merupakan contoh pencemaran  tanah dengan pestisida. Tak semua penggunaan pestisida tepat sasaran.  Hanya sekitar 20 persen yang mengenai sasaran, sementara sebagian  besar sisanya jatuh bebas ke tanah. Dampak dari pencemaran tanah  yaitu tanah menjadi tidak produktif untuk aktivitas pertanian dan dapat memengaruhi ketahanan pangan. 


2. Berkenalan dengan Masyarakat

a. Pengertian Interaksi Sosial

Secara umum, interaksi sosial merupakan suatu proses dalam bertindak dan bereaksi dengan keberadaan orang-orang yang berada di sekitar kita. Kalian perlu mengetahui studi tentang interaksi sosial untuk menunjukkan hal-hal penting dalam kehidupan sosial semasa remaja. Kalian pasti selalu melewati seseorang di jalan atau bertukar kata dengan seorang teman di setiap aktivitas sehari-hari. Kalian menganggap bahwa kegiatan tersebut tampak seperti aktivitas kecil dan tidak menarik, hal-hal yang kalian lakukan berkali-kali dalam sehari tanpa memikirkannya. Padahal itu merupakan proses interaksi sosial!

Menurut Goffman, studi tentang bentuk-bentuk interaksi sosial yang tampaknya tidak signifikan sebenarnya sangat penting dalam sosiologi. 

Interaksi yang dianggap tidak menarik tersebut justru merupakan salah  satu yang paling menarik dari semua bidang penelitian dalam sosiologi.  Terdapat tiga alasan yang mendasari pernyataan tersebut. Pertama, rutinitas sehari-hari kita, dengan interaksi yang hampir konstan dengan  orang lain, memberikan struktur dan bentuk pada apa yang kita lakukan;  kita dapat belajar banyak tentang diri kita sebagai makhluk sosial, dan  tentang kehidupan sosial itu sendiri, dari mempelajarinya. Kedua, studi  tentang kehidupan sehari-hari mengungkapkan kepada kita bagaimana manusia dapat bertindak secara kreatif untuk membentuk realitas. Ketiga, mempelajari interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari, menyoroti  sistem dan institusi sosial yang lebih besar. Semua sistem sosial berskala besar, pada kenyataannya, bergantung pada pola interaksi sosial yang kita lakukan sehari-hari. Ide ini mudah untuk ditunjukkan. 


b. Syarat Interaksi Sosial

Kontak sosial

Kontak sosial merupakan keterlibatan antara seseorang dan individu lain,  atau antarkelompok. Kontak sosial bukan berarti melakukan sentuhan  fisik, melanikan dapat diartikan sebagai sentuhan secara verbal (katakata). Contoh dari kontak secara verbal dapat berupa percakapan, debat, kuliah, pidato, dan seminar. Kontak sosial bisa terjadi dengan perantara media dan alat seperti telekomunikasi (telepon, telepon seluler, atau  smartphone). Kontak sosial mempunyai dua kategori yaitu kontak langsung dan kontak tidak langsung. .

Kontak langsung (primer) adalah kontak yang secara langsung terjadi tatap muka (tanpa perantara). Kontak langsung sangat lazim terjadi karena dialami dan dilakukan sehari-hari seperti memberikan sapaan kepada orang lain, berjabat tangan, berbincang, dan berdiskusi. Seiring perkembangan zaman, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai \telekomunikasi. Dalam hal ini, kontak sosial dengan teknologi tidak dapat dikategorikan sebagai kontak langsung (primer), tetapi sudah berubah ke arah kontak tidak langsung (sekunder).

Kontak tidak langsung (sekunder) meningkat semenjak kemunculan media berbasis elektronik yang dapat diakses menggunakan internet. Berbagai platform media sosial dapat digunakan seperti email, Twitter, Facebook, Instagram, dan lainnya. Media sosial seperti yang telah dicontohkan dapat menjadi perantara untuk memfasilitasi individu dalam berinteraksi dengan individu lain. 


Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses dalam menyampaikan pesan dari  penyampai pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan).  Komunikasi terjadi dan berlangsung jika individu menyampaikan suatu  rangsang (stimulus) yang dapat direspon atau dijawab oleh individu lain  yang dituju. Komunikasi dapat terjadi secara terus menerus sehingga dapat terjadi pertukaran pesan. Komunikasi terjadi setelah kontak sosial berlangsung, tetapi kontak sosial tidak selalu dapat diikuti oleh komunikasi. 

Komunikasi dapat terjadi apabila telah didahului dengan kontak sosial. Proses komunikasi terjadi lebih panjang dibandingkan dengan proses kontak sosial. hal tersebut terjadi karena melibatkan pertukaran-pertukaran pesan yang berbentuk verbal atau nonverbal. Bentuk verbal berbentuk kata-kata yang disampaikan melalui pembicaraan, diskusi, dan hal-hal sebagainya melalui mimik/ekspresi wajah, gestur/gerak tubuh dan bentuk gerakan tubuh. Bahkan bahasa tubuh kita dapat menyampaikan pesan yang tidak sesuai dengan kata-kata kita. Salah satu aspek utama komunikasi adalah ekspresi wajah dari emosi.


c. Bentuk Interaksi Sosial

Interaksi Sosial Asosiatif

Interaksi sosial asosiatif adalah bentuk interaksi sosial yang positif karena mengarah pada kesatuan. Interaksi sosial asosiatif berkembang karena adanya interaksi positif yang berlangsung antarpelaku hubungan sosial asosiatif. 

a) Kerjasama

Kerjasama adalah bentuk interaksi yang utama dari suatu proses interaksi sosial asosiatif, karena dilakukan untuk memenuhi suatu kepentingan atau kebutuhan bersama-sama. Oleh karena itu kerjasama merupakan suatu usaha bersama-sama atau individu-individu atau kelompok sebagai usaha mencapai suatu kepentingan atau tujuan yang telah disepakati bersama-sama.


Beberapa bentuk dari kerjasama diantaranya adalah 1) Bargaining adalah bentuk kerjasama dengan melakukan perjanjian untuk pertukaran barang atau jasa diantara organisasi-organisasi, baik dua  pihak atau lebih; 2) Coalition (Koalisi), merupakan bentuk kerja sama  yang penggabungan antara organisasi dua atau lebih yang berusaha dalam mencapai tujuan bersama yang telah disepakati; 3) Joint Venture adalah kerjasama dalam bentuk pendirian atau penyelesaian dalam suatu proyek-proyek yang dirancang sebelumnya; 4) Cooptation (Kooptasi) merupakan penerimaan suatu unsur yang baru dalam suatu kepemimpinan baru di dalam suatu organisasi atau aktivitas politik.


b) Akomodasi

Akomodasi adalah suatu proses seorang individu atau kelompok dalam tahap penyesuaian akibat pertentangan yang terjadi sebelum akomodasi, dalam rangka mengatasi ketegangan. Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu interaksi sosial yang seimbang, tidak bertentangan dengan norma dan nilai yang berkembang tumbuh di masyarakat. Bentuk-bentuk dari akomodasi diantaranya adalah 1) Toleration (toleransi) merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan bersama; 2) Coercion (koersi) adalah bentuk dari akomodasi yang prosesnya dilaksanakan secara paksaan, di mana salah satu pihak menguasai pihak lain; 3) Arbitration (perwasitan) suatu bentuk penyelesaian masalah melalui pihak ketiga, apabila masing-masing pihak yang bertentangan tidak mampu menyelesaikan sendiri; 4) Mediation (mediasi) penyelesaian sengketa yang menyerupai arbritation, tetapi pihak ketiga hanya sebagai perantara dan tidak mempunyai kewenangan mengambil prakarsa; 5) Conciliation (konsiliasi) adalah usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih, agar tercapai persetujuan bersama.


c) Asimilasi

Asimilasi merupakan pembaruan dari dua kebudayaan yang disertai dengan suatu ciri khas kebudayaan asli yang hilang, sehingga terbentuk kebudayaan baru. Asimilasi ditandai dengan usaha-usaha dalam mengurangi perbedaan yang terjadi antar orang atau suatu kelompok. Dengan adanya asimilasi, maka orang-orang dari kedua kelompok akan berusaha untuk sedikit demi sedikit mengurangi perbedaan di antara mereka.


d) Akulturasi

Akulturasi adalah percampuran kebudayaan. Akulturasi dapat terjadi saat suatu kelompok yang punya kebudayaan tertentu dihadapkan pada suatu unsur budaya asing yang secara sadar atau tidak mulai diterima keberadaannya tanpa berpengaruh pada budaya yang sudah ada. Contohnya seperti bangunan Masjid Demak yang merupakan tempat ibadah umat Islam memiliki corak candi Hindu dengan atap bertingkat seperti layaknya candi Hindu.

Interaksi Sosial Disosiatif

Jenis yang kedua adalah interaksi sosial disasosiatif atau interaksi sosial disosiatif. Interaksi sosial disosiatif memiliki hasil akhir yang negatif atau berujung pada perpecahan antar individu maupun kelompok. Interaksi sosial disasosiatif berkembang dan tumbuh karena terdapat suatu perselisihan atau suatu kompetisi dari para pelaku yang melakukan hubungan disosiatif. Bentuk interaksi disosiatif terbagi menjadi beberapa bentuk, diantaranya adalah: 

a) Persaingan

Persaingan atau kompetisi merupakan interaksi yang bersifat negatif. Persaingan atau kompetisi timbul dari dua individu atau lebih dengan saling memperebutkan suatu yang jumlahnya terbatas, sehingga memungkinkan untuk melakukan segala cara. Persaingan secara perorangan disebut dengan persaingan pribadi, sementara persaingan yang bukan bersifat pribadi yakni persaingan antarkelompok. Contoh dari hal tersebut adalah persaingan antara perusahaan-perusahaan dalam memperebutkan daerah pemasaran.


b) Kontravensi

Kontravensi adalah suatu proses sosial yang terjadi di dalam persaingan dan pertentangan atau konflik. Kontravensi merupakan sikap untuk menuju suatu ketidaksenangan. Kontravensi mempunyai beberapa macam bentuk, antara lain: kontravensi umum, kontrvensi sederhana, kontravensi intensif, kontravensi rahasia, dan kontravensi taktis.


c) Pertentangan/Konflik Sosial

Konflik sering terjadi dengan disertai berbagai ancaman dan kekerasan.  Pertentangan/konflik mempunyai beberapa macam pertentangan, seperti pribadi, rasial, antarkelas sosial, politik dan internasional.


d. Pembentukan Karakteristik Budaya (Kebiasaan) Masyarakat Daerah

Kebudayaan merupakan suatu konsep yang sangat luas sekali. Kebudayaan dalam kacamata sosiologi adalah ide-ide, keyakinan, perilaku sehari-hari, dan produk-produk umum yang diciptakan dan digunakan bersama. Singkatnya, kebudayan adalah segala sesuatu yang tercipta dan dimiliki oleh seorang manusia pada saat berinteraksi secara bersama-sama. Kebudayaan membentuk individu untuk memandang dunia dengan caranya. 

Budaya sangat bervariasi di seluruh dunia. Kita mengenal budaya industri Barat, budaya Timur Tengah, sampai budaya Korea Selatan. Cara-cara hidup masing-masing budaya seringkali tampak “normal” dan seringkali “lebih baik” bagi sebagian orang. Namun, kebudayaan lain yang berbeda terdapat di seluruh permukaan bumi yang nampak “normal” atau “lebih baik” untuk sebagian besar orang lain. Kebudayaan yang berbeda-beda dapat berakibat culture shock, atau gagap dalam menghadapi keadaan situasi dan cara-cara hidup sehari-hari yang tidak biasa. 

Hampir setiap perilaku manusia dipelajari, mulai dari berbelanja, menikah, cara mengungkapan perasaan, sampai cara mendidik anak. Bagi seseorang yang dibesarkan di Sumatra bagian barat, adat istiadat pernikahan sebuah keluarga dari Jawa bagian tengah atau timur mungkin tampak aneh atau bahkan salah. Sebaliknya, seseorang dari keluarga tradisional di pesisir Pulau Sulawesi akan memiliki gagasan yang berbeda dalam mengasuh anak jika dibandingkan dengan keluarga di perbukitan pedalaman Pulau Papua.

Dengan kata lain, cara pandang orang terhadap pernikahan dan pengasuhan anak sangat bergantung pada apa yang telah diajarkan kepada mereka. Perilaku berdasarkan adat istiadat yang dipelajari merupakan sesuatu yang dianjurkan. Mengenal aturan-aturan dalam adat istiadat yang tidak tertulis dapat membantu individu-inidividu merasa aman dan “normal”. Individu-individu banyak menginginkan untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan percaya diri bahwa suatu perilaku dari mereka tidak dapat diganggu. Namun, tindakan-tindakan yang terlihat sederhana seperti pergi ke tempat kerja membuktikan banyak kesopanan budaya.


B. Pembiasaan Diri untuk Melestarikan Lingkungan

Pelestarian lingkungan hidup merupakan upaya menjaga agar kondisi lingkungan hidup tetap terjaga dengan meningkatkan daya dukungnya. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa sumber daya alam yang ada dapat mendukung kehidupan secara berkesinambungan. Berikut merupakan beberapa contoh aktivitas pelestarian lingkungan hidup berupa pelestarian sumber daya udara, air, dan tanah.

1. Pembiasaan Melestarikan Sumber Daya Udara

Usaha pelestarian sumber daya udara akibat aktivitas pabrik dapat dilakukan dengan pemasangan alat penyaring udara. Sedangkan pelestarian sumber daya udara karena asap dari kendaraan bermotor dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor untuk jarak dekat dengan menggunakan sepeda. Penanaman pohon juga merupakan usaha pelestarian sumber daya udara karena pohon dapat memproduksi oksigen (O2) sehingga udara menjadi lebih bersih. 


2. Pembiasaan Melestarikan Sumber Daya Air

Air merupakan sumber kehidupan. Pelestarian sumber daya air dapat diusahakan melalui memelihara dan melindungi sumber air. Upaya untuk menjaga ketersedian air dapat dilakukan dengan pengaturan siklus hidrologi seperti menyimpan air hujan di dalam profil tanah melalui sumur resapan. Kegiatan lain yang dapat dilakukan yaitu melaksanakan program kali bersih, merawat dan membersihkan pintu-pintu air, dan penindakan bagi pelanggar aturan yang dengan sengaja membuang limbah ke sungai juga harus ditegakkan.


3. Pembiasaan Melestarikan Sumber Daya Tanah

Pelestarian sumber daya tanah dapat dilakukan dengan melindungi, memperbaiki tanah agar kembali produktif, dan meningkatkan produktivitas tanah. Pemanfaatan pupuk organik lebih aman dan tidak mencemari tanah dibandingkan penggunaan pupuk kimia. Selain itu upaya pelestarian sumber daya tanah dapat dilakukan dengan bioremediasi. 

Bioremediasi merupakan proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Tujuan kegiatan ini yaitu dapat memecah atau menurunkan tingkat zat-zat yang mencemari lingkungan sehingga menjadi bahan yang tidak beracun.


4. Aktivitas Manusia Zaman Praaksara

Akal manusia menjadikan dirinya menjadi makhluk yang paling berbeda dan mempunyai keistimewaan untuk mengelola kebutuhan hidupnya dan terus berkembang menjadi lebih baik. Aktivitas manusia untuk menjalankan aktivitasnya, seperti untuk mendapatkan makanan, banyak menggunakan akalnya dan mengoptimalkan fungsi indra seperti penglihatan dan pendengaran serta fisiknya. Penggunaan akal manusia dapat menciptakan teknologi yang tersedia dari alam sekitar. Batu, tulang dan kayu dapat digunakan untuk menciptakan alat yang digunakan untuk berburu hewan dan mengumpulkan makanan. Alat-alat tersebut selama bertahun-tahun selanjutnya mengalami perkembangan dan inovasi sesuai dengan kebutuhan pada zamannya. 


a. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Sederhana

Keadaan yang tidak stabil dan sering berganti di permukaan bumi dalam bentuk fisik, iklim, dan sebagainya telah dihadapi oleh manusia. Makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan sudah menyebar merata di bumi. Perburuan dan pengumpulan makanan menjadi aktivitas keseharian manusia pada masa ini. Mereka berburu hewan seperti rusa, kuda, kijang, kerbau, gajah, dan beberapa hewan lainnya. Pengumpulan makanan berupa umbi-umbian, buah-buahan, dan berbagai tanaman yang dapat dimakan.


Manusia pada masa ini hidup berpindah-pindah dengan berkelompok. Daerah-daerah yang ditempati oleh manusia perlu memperhatikan ketersediaan makanan yang cukup. Mereka hidup berpindah-pindah dan menghuni gua-gua serta cerukan. Pada tahap berburu dan mengumpulkan makanan sederhana ini, penemuan api dan alat-alat sangat penting. Api digunakan untuk meramu makanan dan alat-alat menjadi hal yang penting karena pada perkembangannya alat-alat akan dibuat lagi lebih canggih dan halus. Api menjadi penting dalam kehidupan manusia dalam mengembangkan teknologi.

Pada masa ini, alat-alat yang digunakan masih bersifat kasar dan terbuat dari batu, tulang, atau kayu. Alat-alat dari batu yang digunakan misalnya kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, dan kapak genggam; alat serpih-bilah seperti pisau, peraut, gurdi, dan mata panah; serta alat-alat yang terbuat dari tulang belulang atau tanduk. Hasil-hasil kebudayaan pada zaman ini secara arkeologis disebut dengan zaman paleolithikum. Zaman paleolithikum dapat dibedakan menjadi dua kebudayaan, yaitu kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.

Kebudayaan Pacitan menunjukan alat-alat dari batu sepeti kapak tapi tidak mempunyai tangkai atau alat penetak (chopper). Alat ini digunakan dengan cara digenggam dengan tangan. Alat-alat tersebut masih memiliki permukaan yang sangat kasar. Pada kebudayaan Ngandong banyak didapatkan alat dari tulang selain kapak genggam dari batu. Alat-alat dari tulang dibentuk tajam karena digunakan untuk mengorek umbi-umbian. Selain itu ada juga yang disebut flakes (alat-alat kecil) yang dibuat dari batu yang indah.


b. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut

Pada era berikutnya, kehidupan manusia pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut masih bergantung kepada faktor alam. Faktor-faktor tersebut adalah kesuburan, iklim, dan terdapatnya sumber makanan (hewan dan tumbuhan). Mereka hidup dengan berburu hewan darat, menangkap ikan di sungai/laut, mencari kerang-kerangan di tepi pantai dan mengumpulkan biji-bijian, umbi-umbian, buah-buahan serta daun-daunan. Hidup berburu dan meramu makanan masih menjadi aktivitas sehari-hari. Namun, pada saat ini faktor-faktor alam menjadi sangat sulit untuk diprediksi. Tanda-tanda mereka sudah menetap dan bercocok tanam untuk menghasilkan makanan sendiri sudah tampak untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang tidak menentu. 

Mereka sudah mulai menetap cukup lama di gua-gua (abris sous roche) dan cerukan di tepi pantai. Mereka memilih tempat tinggal yang dekat dengan sumber air. Jika kalian perhatikan, kehidupan manusia pasti dekat dengan sumber air hingga saat ini. Pertanian sudah mulai dilakukan dengan menanam padi, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Mereka juga sudah mencoba untuk berternak dengan menjinakkan hewan. 

Namun, tradisi berpindah dan mengumpukan makanan masih dominan dan menjadi aktivitas keseharian mereka. Mereka yang tinggal dipantai meninggalkan jejak yaitu berupa sampah dapur berupa kulit kerang atau disebut kjokkenmoddinger. Pada masa ini manusia sudah masuk kedalam masa Mesolithikum berdasarkan arkelogis.

Alat-alat yang digunakan masih sama dengan masa sebelumnya. Alatalat dari batu, tulang, tanduk, kulit kerang dan bambu. Alat-alat dari batu, tulang dan kulit kerang dibuat untuk serpih-bilah dan kapak genggam Sumatra. Alat-alat ini sudah lebih halus dibandingkan dengan masa sebelumnya. Bambu dapat dijadikan sebagai cungkil dan sudip sebagai alat untuk mencungkil dan membersihkan umbi-umbian.


c. Masa Bercocok Tanam

Masa bercocok tanam adalah masa terpenting dalam sejarah manusia. Peralihan kebudayaan manusia dalam kebiasaan berburu dan mengumpulkan makanan ke masa untuk bercocok tanam mempunyai proses yang sangat panjang. Pada masa ini, manusia sudah memasuki babakan sejarah Neolithikum berdasarkan arkeologis. 

Manusia pada masa ini bercocok tanam dengan membuka lahan baru. Mereka memanfaatkan hutan dan semak dengan cara ditebang dan dibakar kemudian mereka tanami dengan cara sederhana. Tetapi teknik tersebut mempunyai dampak yang cukup besar. Kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan masih dijalankan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Pada masa ini mulai ada pola-pola perkampungan dan sudah hidup menetap secara berkelompok dengan beberapa keluarga. Populasi manusia meningkat pada masa ini. Mereka mulai mengatur hidup dengan kegiatan-kegiatan dalam kehidupan perkampungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan pembagian hasil secara adil.

Pola hunian perkampungan berada di sekitar sumber air dan dataran tinggi. Pinggiran sungai, danau, tepian pantai dan daerah pantai merupakan indikator untuk mereka tempati Mereka memilih dataran tinggi untuk berlindung dari serangan musuh dan binatang-binatang buas. Pola hunian yang menjadi perkumpungan menumbuhkan rasa gotong-royong di dalam setiap anggota hunian. Mereka terbiasa menebang pohon, membakar semak belukar, menabur benih, memanen, membuat gerabah, tukar-menukar, berburu, dan menangkap ikan. Mereka terbiasa bekerja sama dengan dipimpin oleh seorang pemimpin di perkampungan. 

Komunikasi di antara mereka pada masa ini sudah maju. Penggunaan bahasa sudah menciptakan komunikasi yang berkembang menjadi bahasa yang berkembang hingga saat ini. Kedudukan pemimpin ditunjukkan kepada orang paling tua yang berwibawa. Tradisi menghormati orang tua sebagai peran pemimpin telah ada sejak masa ini. 

Masa bercocok tanam mendorong pengunaan teknologi yang lebih maju dari masa sebelumnya. Alat-alat yang digunakan sudah diasah. Alatalat yang digunkan seperti beliung persegi, kapak lonjong, kapak batu, mata panah dan mata tombak. Alat-alat obsidian atau batu kecubung berkembang. Gerabah juga mulai digunakan dengan teknik pembuatan yang sederhana. Perhiasan-perhiasan juga sudah diciptakan seperti gelang dari batu dan kulit kerang. Manusia pada zaman ini meninggalkan benda-benda seperti menhir, dolmen, sarkofagus, kubur berundak, peti kubur batu, palung, lesung batu, dan patung-patung batu. 


d. Masa Perundagian

Masa perundagian diperkirakan oleh ahli sejarah adalah masa akhir dari masa prasejarah atau praaksara. Perundagian berasal dari kata dasar undagi. Dalam bahasa Bali, kata undagi berarti seseorang atau sekelompok orang atau golongan masyarakat yang mempunyai keterampilan dan/atau kepandaian suatu jenis usaha tertentu dalam membuat gerabah, perhiasan dari kayu/sampan/batu. Berdasarkan ilmu arkeologi, manusia telah memasuki zaman logam pada masa perundagian. 

Manusia pada zaman ini sudah tidak lagi berpindah. Mereka lebih nyaman untuk menetap secara berkelompok dengan membangun perkampungan dan desa. Mereka sudah menyebar dengan menetap di desa-desa di daerah pegunungan, dataran rendah dan pantai. Mereka sudah terbiasa untuk mengatur kebutuhan sehari-hari (bertani dan berternak) dengan bergotong royong dan dibagi rata secara adil. 

Pada zaman ini menunjukan kemajuan yang amat pesat. Pola ini masih digunakan di sekitar kalian.Sistem pembagian kerja menjadi lebih ketat dan berkembang kepada kegiatan sehari-hari dalam bermasyarakat. Aktivitas sehari-hari dibagi berdasarkan kepada keterampilannya. Manusia menjadi terarah dengan mengetahui pengetahuan dan kemampuan masing-masing. 

Perkembangan ini menjadikan manusia terbagi menjadi golongangolongan tertentu dalam melakukan pekerjaan. Sistem pekerjaan ini juga berkembang dengan sangat baik. Pekerjaan semakin terspesialisasi kepada sub-sub yang lebih kecil dan spesifik.

Kemampuan manusia dalam menghasilkan teknologi jauh lebih tinggi dibandingkan masa sebelumnya. Manusia sudah mengenal teknik dalam mengecor logam. Mereka melebur bijih logam untuk dibuat benda-benda keperluan untuk aktivitas sehari-hari. Penemuan-penemuan baru dengan teknik peleburan, percampuran, penempaan, dan pencetakan jenis-jenis logam. Emas dan tembaga menjadi logam yang sering dilebur karena titik leburnya tidak membutuhkan suhu yang tinggi. Perhiasan-perhiasan diciptakan beraneka ragam seperti cincin, gelang, kalung, penutup lengan dan sebagainya. 

Manusia juga sudah ulung dalam berlayar. Mereka melakukan perdagangan dengan daerah lain mengarungi lautan luas. Perahu bercadik memainkan peranan besar dalam melangsungkan hubungan-hubungan dengan daerah lain. Perdagangan dilakukan dengan sistem barter atau tukar menukar. Barang-barang yang laku kala itu adalah nekara perunggu dan perhiasan-perhiasan dari logam dan manik-manik. Mereka mempercayai bahwa benda-benda tersebut mempunyai unsur magis dan bersifat khas. Unsur-unsur ini masih lestari di Indonesia. Mereka masih mempercayai unsur-unsur magis yang dipercayai terdapat di dalam benda-benda sehingga diberi nama dan dirawat dengan baik.


5. Mengenal Leluhur Bangsa Indonesia

Kalian tentu mengetahui bahwasannya Indonesia merupakan negara kepulauan. Negara Indonesia melintang dari Sabang sampai Merauke dan dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dijalin dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika bersatu padu dan kokoh hingga kini.

Meskipun berbagai isu dan cobaan memecah-belah bangsa Indonesia, kekuatan rakyat Indonesia tetap dapat bersatu dalam satu kesatuan. Tidak mudah untuk dipecah belah. Isu-isu yang muncul seperti isu suku dan ras sering dijadikan pemicu untuk memecah belah. Kalian tentunya perlu mengetahui berbagai ilmu pengetahuan terkait dengan leluhur bangsa Indonesia agar dapat kalian jadikan hikmah dari mana dan siapa diri kalian sendiri. Identitas kalian disamping suku dan ras adalah satu, yaitu warga negara Indonesia yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama. 

Kepulauan Indonesia saat ini dihuni oleh berbagai suku yang menurut para ahli belum dapat secara pasti dilacak asal-usulnya. Namun, kalian perlu mengatahui asal-usul leluhur kalian berdasarkan bukti arkeologis, bukti linguistik (kebahasaan), dan bukti genetik yang ditemukan. 

a. Bukti Linguistik (kebahasaan)

Berdasarkan kepada bukti linguistik (kebahasaan) para ahli menduga bahwa orang-orang yang menggunakan bahasa Austronesia di kepulauan Indonesia sama dengan yang ada di daerah Pasifik Barat Daya. Para ahli berpendapat bahwa adanya kesamaan bahasa induk antara orang-orang yang ada di Indonesia, negara-negara Asia Tenggara dan daerah Pasifik. 

Bahasa induk Austronesia yang digunakan orang-orang Indonesia, negaranegara Asia Tenggara dan Pasifik kemungkinan berasal dari Asia Daratan (sekitar Vietnam dan Annam) sehingga para ahli menduga orang-orang yang berada di kepulauan Indonesia pada saat ini berasal dari daerah daratan Asia. 

b. Bukti Arkelogis

Berdasarkan kepada bukti arkeologis para ahli berdasarkan kepada bukti terbaru berpendapat bahwa leluhur bangsa Indonesia berasal dari daerah sekitar Taiwan dan menamakan teorinya dengan Out of Taiwan. Ada beberapa tahapan dari bangsa Austronesia untuk migrasi dari sekitar Taiwan ke wilayah Asia Tenggara dan Indonesia serta Pasifik. 

■ Tahap I 5.000 tahun sebelum Masehi (SM) yaitu migrasi para petani dari Tiongkok Selatan mencapai Taiwan. Pada masa ini bahasa Austronesia baru muncul beberapa abad kemudian (sekitar 4.000 SM). 

■ Tahap II migrasi dari Taiwan ke daerah Filipina (2.500 SM). Setelah menetap selama berabad-abad, populasi bangsa Austronesia yang berada di Taiwan kemudian bermigrasi ke selatan menuju Filipina. 

■ Tahap III migrasi dari Filipina ke arah selatan dan tenggara (menjelang 2.000 SM). Bangsa Austronesia kemudian bermigrasi kembali ke arah Kalimantan dan Sulawesi serta ke tenggara menuju Maluku Utara. Setelah proses ini kemudian mereka pecah untuk melakukan migrasi ke arah barat dan timur. 

■ Tahap ke IV migrasi dari Maluku Utara ke selatan dan timur (2.000 SM). Mereka kemudian bermigrasi kembali menuju ke arah timur mencapai daerah Nusa Tenggara dan Papua Barat. Sementara bangsa Austronesia yang melakukan migrasi ke barat menuju ke Jawa dan Sumatra. 

■ Tahap ke V Migrasi dari Papua Utara ke barat dan timur (2.000-1.500 SM). Bangsa Austronesia yang tinggal di pantai utara daerah Papua Barat bermigrasi dengan arus balik ke arah barat menuju Halmahera Selatan, Kepulauan Raja Ampat, dan pantai sebelah barat Papua. Sementara bangsa Austronesia yang berada di Jawa dan Sumatra menyebar kembali ke utara ke arah Vietnam dan Semenanjung Malaya. Bahkan pada awal tahun Masehi mereka juga menyebar dari Kalimantan ke Madagaskar. 

Sebelum migrasi bangsa Austronesia di kepulauan Indonesia, tepatnya di Papua pedalaman, terdapat bangsa Paleo-Melanosoid. PaleoMelanosoid merupakan leluhur orang-orang yang berada di pedalaman dan penduduk asli Australia. Bangsa Paleo-Melanosoid bermigrasi ke daratan Papua dan Asutralia sekitar 800.000 tahun yang lalu. Pada masa tersebut, daratan Papua dan Australia bersatu. Bangsa Paleo-Melanosoid yang berada di Papua dan Australia seiring berjalan waktu berkembang sesuai dengan keadaan fisik daerah masing-masing kecuali yang berada di pedalaman yang berhasil mempertahankan adat istiadat dan budayanya. 

Orang Papua asli mendapat pengaruh ciri-ciri fisik pendatang dari Austronesia yang tiba setelahnya yang berada di sekitar pesisir. Campuran Paleo-Melanosoid dan Austronesia mengakibatkan kebinekaan ragawi orang Papua sekarang.


c. Bukti Genetika

Berdasarkan kepada bukti genetika menunjukkan di daerah kepulauan Indonesia sudah didiami oleh penduduk sebelum bangsa Austronesia datang bermigrasi dari Taiwan. Bahkan bukti yang lain menunjukan bahwa terdapat migrasi dari selatan menuju utara (kepulauan Indonesia menuju ke daratan Asia) dan memungkinkan bahwa penutur bahasa Austronesia berasal dari daerah Indonesia kemudian menyebar ke utara. 

Kalian tentunya perlu memahami informasi mengenai dari mana asal-usul leluhur kalian sendiri seiring penemuan dan kajian lebih lanjut mengenai leluhur bangsa Indonesia. Perdebatan yang ada cukup kalian ketahui berdasarkan berbagai fakta dan data. Kalian tentunya juga perlu mengetahui dan bersepakat, leluhur bangsa Indonesia membutuhkan proses yang lama dari generasi ke generasi hingga sampai ke kalian dan adik-adik kalian. Leluhur kalian mempunyai kebudayaan yang ditinggalkan dan dilestarikan sebagai identitas yang perlu kalian banggakan. Kalian adalah satu keluarga, keluarga bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote. Kalian perlu bangga menjadi bangsa Indonesia yang mempunyai leluhur dengan sejarah yang panjang dengan menghasilkan keragaman budaya di dalamnya.


6. Diaspora Bangsa Indonesia

Kalian pernah dengar lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”? Bagaimana menurut kalian mengenai lagu tersebut apakah sesuai dengan kebenaran leluhur kalian sebagai seorang pelaut? Pada catatan sejarah, bangsa Indonesia tercatat pandai dalam mengarungi samudra. Mereka melakukan perjalanan, baik untuk mengeksplorasi alam, berdagang dan berinteraksi dengan sesama manusia di lain daerah. Pada pembahasan kali ini, kalian perlu memahami mengenai diaspora bangsa Indonesia.

a. Orang Bugis dan Dayak di Afrika Selatan

Apakah kalian mengetahui bahwa orang Bugis dan Mandar merupakan suku yang terampil dalam melaut dan membuat kapal? Orang Bugis dan Mandar terkenal sebagai suku yang pandai melaut dan membuat kapal. 

Mereka terkenal dengan terampil membuat dan menggunakan kapal Pinisi. Kapal Pinisi membantu mengarungi dunia, mengarungi samudra.

Terdapat banyak pendapat perihal pendatang berwajah Melayu di Afrika Selatan, tepatnya di Madagaskar. Pendapat ini dapat dikerucutkan menjadi dua, yaitu kelompok suku Dayak dan suku Bugis. Berbagai studi menunjukkan keterampilan bangsa Indonesia adalah melaut. Begitu pun dengan kemampuan suku Dayak dan Bugis yang dapat berhasil sampai Madagaskar. 

Suku Dayak teridentifikasi di Madagasakar melalui studi bahasa. Bahasa yang berada di Madagaskar diidentifikasi berasal dari bahasa Maanjan (suku Maanjan di Lembah Barito, Kalimantan). Suku Maanjaan tidak pernah berlayar jauh karena mereka terbiasa hidup dengan budaya sungai. Kemungkinan besar, suku Maanjan dibawa oleh para pelaut Bajau yang kerap membawa orang Indonesia ke Afrika dan Madagaskar. 

Diaspora Suku Bajau yang tersebar di belahan penjuru dunia. Dialek komunitas yang sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sangat berbeda dengan suku-suku yang tinggal menetap. Dugaan sementara menyimpulkan suku Bajau memengaruhi dialek suku Dayak karena mereka pernah singgah dan menetap di Kalimatan. 


Penelitian lain menunjukan darah suku Dayak mengalir di tubuh penduduk Madagaskar. Pada masa lampau, etnis Dayak berlayar dengan perahu ke Samudra Hindia dan diduga terdampar di Madagaskar yang sebelumnya tidak berpenghuni. Suku Dayak diduga sebagai pemukim pertama di Madagaskar. Ini ditunjukan dengan bukti bahwa suku-suku di dataran tinggi yaitu Merina, Sihanaka, dan Betsileo menggunakan bahasa komunikasi yang mirip dengan bahasa Barito yang banyak digunakan di Kalimantan bagian Selatan.


Suku Bugis teridentifikasi dan kemungkinan besar menjadi salah satu dari diaspora bangsa Indonesia yang datang pertama ke Madagaskar. Mereka diduga ke Madagaskar/Afrika Selatan karena menjadi tawanan politik Belanda. Mereka didatangkan untuk dipekerjakan sebagai budak di Tanjung Harapan. Mereka tidak pernah kembali dan menetap di Madgaskar/Afrika Selatan. Tawanan politik yang dibawa Belanda salah satunya adalah Syekh Yusuf, seorang tokoh Bugis dari Gowa Makassar. 

Beliau menetap di Afrika Selatan dan menyiarkan agama Islam di sana terutama di kalangan para budak yang kemudian membentuk komunitas Islam. Sebagai tanda penghormatan, salah satu kota kecil tempat ia berdakwah di Afrika Selatan dinamakan Macassar.

Di samping berlayar dan berdagang, pemerintah Belanda di abad ke17 juga melakukan praktik migrasi paksa. Mereka memanfaatkan orangorang yang diasingkan ke Afrika Selatan untuk membangun koloni di Tanjung Harapan. Orang-orang yang diasingkan tersebut banyak berasal dari keturunan sultan dan pangeran dari Jawa dan Makassar. Seiring waktu, mereka menggabungkan diri menjadi satu komunitas. 


b. Orang Bugis di Malaysia

Proses penggabungan kebudayaan Bugis ke Malaysia dengan cara menjadi orang Melayu. Mereka menjadi seorang Muslim, menggunakan bahasa Melayu dan menerapkan adat istiadat Melayu. Orang-orang Bugis mudah untuk melakukan hal tersebut karena budaya, bahasa, dan adat istiadat yang tidak berbeda jauh. 

Antara tahun 1855-1920, banyak pendatang dari Indonesia (Jawa, Madura dan Kalimantan) yang menetap dan membuka lahan baru di Johor. Mereka menebang hutan dan menjadikannya perkebunan. Ada juga yang datang juga untuk bekerja sebagai kuli kontrak di perkebunan milik keluarga Arab. Mereka berangkat dari Indonesia ke Johor menaiki kapal Suku Bugis. 


Migrasi Suku Bugis secara besar-besaran terjadi pada 24 Juli 1669 akibat dari jatuhnya ibu kota Kerajaan Gowa, Somab Opu ke tangan Belanda. Mereka bermigrasi ke daerah Semenanjung Malaya dan Kalimatan bagian utara (Borneo). Hal tersebut merupakan cikal bakal dari diaspora Bugis di daerah Sabah dan Serawak, Malaysia. Pemerintah Belanda pada tahun 1882-1885 mendatangkan Suku Bugis ke Tawau dengan tujuan membangun daerah Tawau dan membuka perkebunan kelapa.

Suku Bugis bermigrasi secara kelompok yang dipimpin oleh tokohtokoh bangsawan. Kaum laki-laki datang terlebih dahulu dan selanjutnya membawa keluarga mereka. Suku Bugis dari generasi pertama memperoleh tanah dan membuka usaha-usaha perkebunan di Sabah. Mereka juga melakukan perdagangan dan menangkap ikan. Suku Bugis mendapat tempat istimewa dan punya posisi penting di Sabah. Tokoh Bugis diangkat menjadi pemimpin berbagai kelompok etnis yang ada di sana.


c. Orang Makassar (The Macassans) di Australia

Suku-suku pelaut di Nusantara memanfaatkan angin monsoon (muson) barat laut untuk berlayar ke Australia. Suku Bugis secara teratur berlayar ke Australia dan kerap singgah di Australia bagian utara sejak 1650. Mereka menyebut daerah Arnhem di Australia Utara dengan Marege dan wilayah barat laut Australia dengan sebutan Kayu Jawa. Suku Bugis pergi ke Australia Utara untuk mencari teripang (sea cucumber). Teripang tersebut kemudian diasapi dan diekspor ke Tiongkok. Pada perkembangannya, suku Bajau dan nelayan dari Buton juga datang untuk mencari teripang.


Nelayan Bugis banyak berdatangan dan singgah di Australia. Suku Bugis melakukan perjalanan dengan rute Makassar–Saleier, Wetar–Kisar–Leti–Moa–Pelabuhan Darwin. Jejak interaksi antara orang Bugis dan suku Aborigin yang tinggal di Australia dapat dilihat pada beberapa lukisan gua dan kulit kayu. Di samping itu, beberapa ritual yang dilakukan suku Aborigin (Australia) juga menunjukkan bukti interaksi tersebut.

Pada pertengahan abad ke-17 hingga awal abad ke-20, pelaut Makassar berkunjung secara rutin tiap musim ke Australia. Mereka mengumpulkan teripang sekaligus berdagang dengan membeli kulit kura-kura, kayu besi, mutiara, dan kulit kerang. Mereka juga menyediakan kebutuhan suku Aborigin seperti makanan, tembakau, alkohol, baju, panah, dan pisau. 

Hubungan mereka sangat baik sehingga suku Aborigin beberapa kali ikut dan singgah di Makassar. Bahkan, beberapa diantaranya menetap di Makassar. 


C. Pembangunan Berkelanjutan dan Kelangkaan

1. Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan masa kini dengan meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan sehingga kualitas kehidupan saat ini tidak terganggu dan sumber daya alam akan tetap terjaga untuk menopang kehidupan generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan menjadi perdebatan karena sulit dimengerti dan dinilai menghambat pembangunan, terutama pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2015, masyarakat di semua negara mulai memandang penting pembangunan berkelanjutan dengan lahirnya Deklarasi Sustainable Development Goals (SDGs).


2. Karakteristik Pembangunan Berkelanjutan

Karakteristik pembangunan berkelanjutan berbeda dengan pembangunan lainnya. Ciri-ciri tersebut antara lain setiap tindakan harus memperkirakan dampak terhadap kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup; mendorong perilaku manusia yang mendukung pemanfaatan dan manajemen sumber daya alam secara berkesinambungan; menjunjung tinggi rasa tanggung jawab terhadap alam, berperan aktif dalam menjaga alam dalam melakukan kegiatan sosial dan ekonominya; Peningkatan kualitas manusia dimaksudkan agar manusia memiliki pengetahuan, kemampuan yang berdaya saing untuk menguasai teknologi dan memanfaatkan alam secara efisien dan bertanggung jawab; dan intervensi kebijakan dan fokus kegiatan saling memperhatikan keterkaitan antartujuan.


3. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Berdasarkan hasil Deklarasi SDGs terdapat 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang kemudian dikelompokan menjadi 4 pilar. Keempat pilar tersebut yaitu pilar sosial, ekonomi, lingkungan hidup, dan tata kelola. Satu pilar berhubungan dengan pilar lainnya, misalnya pilar lingkungan terkait dengan pilar ekonomi karena perlunya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.


Pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan komprehensif yang berlandaskan empat pilar pembangunan. Empat pilar tersebut yaitu pilar pembanguan sosial yang fokus terhadap kesejahteraan masyarakat. Pilar pembangunan ekonomi memfokuskan pada peningkatan ekonomi yang ramah lingkungan, kolaborasi dan inovasi. Pilar pembangunan lingkungan meliputi lingkungan hidup yang ada di darat dan perairan. Pilar pembangunan tata kelola berhubungan dengan usaha menjaga perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh.


4. Kelangkaan dan Kebutuhan Manusia yang Tidak Terbatas

Salah satu masalah ekonomi akan terus terjadi dan terus berlangsung adalah kelangkaan. Kelangkaan terjadi ketika sumber daya alam yang tersedia tidak dapat memenuhi kebutuhan manusia. Kelangkaan tidak akan terjadi jika sumber daya yang tersedia melimpah, memiliki kualitas yang baik serta ditemui di mana saja dan kapan saja. Namun kenyataannya, manusia hampir tidak pernah puas dan tidak mampu mengimbangi ketersedian sumber daya.

a. Kelangkaan Sumber Daya Alam

Kelangkaan sumber daya alam merupakan salah satu kelangkaan yang tidak dapat dihindari. Sumber daya alam yang jumlahnya terbatas saat ini, tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan populasi manusia yang semakin bertambah pada masa mendatang. Semakin bertambahnya populasi manusia di dunia dan sumber daya yang jumlahnya terbatas menyebabkan kelangkaan. Diperlukan inovasi dan perbaikan dalam segala bidang agar kelangkaan ini dapat diatasi dan kebutuhan manusia tetap dapat terpenuhi.

b. Kelangkaan Tenaga Kerja

Kelangkaan tenaga kerja terjadi ketika sulit menemukan tenaga kerja yang kompeten untuk menjalankan proses produksi, baik barang maupun jasa. Jika keadaan ini terus berlanjut maka produksi akan terganggu dan menyebabkan masalah ekonomi pada suatu daerah. Selain tenaga produksi, perusahaan juga membutuhkan tenaga ahli. Tenaga ahli merupakan orang yang benar-benar kompeten dan ahli pada suatu bidang tertentu seperti dosen bagi perguruan tinggi, dokter bagi sebuah rumah sakit, insinyur teknik untuk bagian produksi, manager pemasaran dan akuntan bagi sebuah perusahaan. 

c. Kelangkaan Modal

Kelangkaan dapat terjadi dalam bentuk penyediaan modal. Modal tidak hanya berbentuk uang tunai melainkan gedung, peralatan, dan mesin produksi. Modal yang terbatas akan memengaruhi kelangsungan proses produksi. Salah satu bentuk kelangkaan modal adalah penggunaan mesin produksi dengan kualitas rendah.


d. Kelangkaan Keterampilan Kewirausahaan

Keterampilan kewirausahaan adalah keterampilan yang mampu mengkombinasikan sumber daya alam, tenaga kerja dan modal. Seseorang dengan keterampilan kewirausahaan dapat meminimalkan biaya produksi dan memaksimalkan kuantitas produksi dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Keterampilan ini bertugas untuk mengelola faktorfaktor produksi sehingga menghasilkan produk yang bermutu, harga yang dapat bersaing serta mampu memenuhi kebutuhan akan produk tersebut. 


5. Faktor yang Menyebabkan Kelangkaan

a. Pertumbuhan Penduduk yang Terus Meningkat

Jumlah penduduk di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 238.518.000 jiwa dan diproyeksikan mengalami peningkatan pada tahun 2020 menjadi 271.066.000 jiwa (bps.go.id). Proyeksi peningkatan jumlah penduduk sebesar 32.548.000 atau 13,6% menyebabkan kebutuhan yang semakin meningkat pula. Peningkatan ini tidak seimbang dengan persediaan sumber daya alam yang jumlahnya terbatas. Misalnya peningkatan jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan atas lahan tempat tinggal. 


b. Alat Pemuas Kebutuhan yang Berasal dari Alam Jumlahnya Terbatas

Berbagai sumber daya alam dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, sumber daya alam merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbarui. Jumlah sumber daya alam semakin berkurang dan dapat habis suatu saat nanti. Jika manusia tidak melakukan inovasi dan melakukan penghematan, maka kelangkaan sumber daya alam akan segera terjadi. Sebagai contoh, minyak bumi yang saat ini terus dieksploitasi lama-kelamaan akan habis. Padahal, minyak bumi membutuhkan waktu jutaan tahun untuk dipulihkan kembali.


c. Kerusakan Ekosistem Alam

Eksploitasi manusia terhadap alam dapat merusak kelestarian yang ada di dalamnya. Misalnya merubah hutan menjadi ladang dan kebun untuk bercocok tanam secara besar-besaran dapat memengaruhi ekosistem yang ada di dalamnya. Keanekaragaman hayati dalam hutan akan terganggu, banyak tanaman mati dan hewan kehilangan tempat tinggalnya. Selain itu, perombakan hutan untuk ladang dan kebun dapat menyebabkan kebakaran hutan seperti yang terjadi di Riau dan Kalimantan tahun 2019 serta banjir bandang seperti yang terjadi di Bandung, Banten dan Masamba pada tahun 2020.


d. Kecakapan Sumber Daya Manusia 

Penguasaan teknologi yang rendah serta modal yang terbatas mengakibatkan produksi tidak efektif dan efisien. Sumber daya tidak mampu dimanfaatkan secara optimal dan hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan manusia juga tidak maksimal. Teknologi dan kompetensi karyawan perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan hasil produksi sehingga kebutuhan manusia akan suatu produk dapat terpenuhi dengan harga yang relatif terjangkau sesuai kemampuan ekonomi masyarakat. 


e. Potensi Sumber Daya Alam yang Beragam

Setiap daerah mempunyai kekayaan sumber daya alam yang beraneka ragam. Suatu daerah mempunyai tambang batubara yang melimpah tetapi lahannya dieksploitasi dan tidak dapat digunakan untuk bercocok tanam, sementara daerah lain memiliki tanah yang subur dengan hasil pertanian yang melimpah tetapi tidak memiliki tambang. Kedua daerah tersebut memiliki peluang kelangkaan yang berbeda. Jika pemerintah tidak dapat mengatasi kelangkaan ini maka akan memengaruhi perekonomian masyarakat di kedua daerah. 


f. Perkembangan Iptek yang Tidak Merata

Negara maju mempunyai perkembangan iptek yang lebih cepat dan merata dibandingkan negara berkembang. Perkembangan iptek ini berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas produksi suatu barang. Negara yang mempunyai perkembangan iptek baik akan memaksimalkan proses produksi dan berusaha memenuhi dengan optimal kebutuhan masyarakatnya yang membuat harga terjangkau.


6. Dampak Ekonomi atas Kelangkaan Sumber Daya 

Kelangkaan sumber daya memberikan dampak bagi perekonomian suatu negara, diantaranya adalah pertama produksi menurun, ketika sumber daya alam sebagai bahan baku langka maka bahan baku produksi akan berkurang dan terjadi penurunan jumlah produksi. Penurunan jumlah produksi ini akan memengaruhi daya beli dan masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan atas barang tersebut. Kedua, harga barang meningkat, ketika jumlah barang yang tersedia di pasar sedikit sedangkan jumlah kebutuhan barang tersebut meningkat akan mengalami kenaikan harga dan memengaruhi kondisi ekonomi. Ketiga, pendapatan masyarakat yang menurun, perusahaan yang mengurangi jumlah produksinya akan mengurangi jumlah tenaga kerja. 


7. Langkah Pencegahan Kelangkaan Sumber Daya

a. Mengelola Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan 

Kerusakan alam yang terjadi karena eksploitasi alam yang berlebihan perlu dihentikan. Penggunaan sumber daya untuk kebutuhan manusia perlu diimbangi dengan melaksanakan pelestarian alam agar sumber daya tetap tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia pada masa yang akan datang. Misalnya penebangan pohon untuk dimanfaatkan kayunya juga perlu diimbangi dengan penanaman pohon kembali. 


b. Meminimalkan Penggunaan Sumber Daya yang Tidak Terbaharukan

Sumber daya alam yang tidak terbaharukan akan habis dan tidak dapat dibuat kembali dalam waktu yang cepat. Sehingga, cara yang dapat dilakukan adalah penghematan sumber daya. Penghematan sumber daya bertujuan untuk memperpanjang peluang kelangkaan sumber daya yang ada sehingga dapat bermanfaat untuk kehidupan pada masa mendatang. 


c. Menggunakan Teknologi yang Tepat Guna

Penggunaan teknologi yang sesuai dapat memaksimalkan hasil produksi. Penggunaan teknologi yang sesuai akan menghasilkan lebih banyak produk. Sehingga, produk dapat dapat dijual dengan harga yang lebih terjangkau dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Penggunaan teknologi yang sesuai juga akan menghemat bahan baku karena bahan baku yang dimiliki dapat diolah semaksimal mungkin.


d. Mencari Alternatif Sumber Daya Pengganti

Sumber daya alam yang terbatas seperti minyak bumi, batubara, emas, dan bahan tambang lain akan habis. Ketika sumber daya alam habis maka proses produksi terhenti dan manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Untuk itu perlu mencari alternatif sumber daya pengganti yang lebih ramah lingkungan dan dapat diperbaharui untuk menggantikan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui.


8. Masalah Pokok Ekonomi

Kelangkaan merupakan masalah pokok ekonomi. Kebutuhan manusia, yang hampir tak terbatas, tidak mampu dipenuhi oleh alat pemuas kebutuhan yang sifatnya terbatas. Dilihat dari kacamata ilmu ekonomi modern, terdapat dari tiga masalah pokok ekonomi, antara lain:


a. Barang Apa yang Akan Diproduksi (What)?

Dalam ekonomi, menentukan suatu barang yang akan diproduksi merupakan masalah pokok. Hal tersebut mencakup jenis, jumlah barang, dan waktu proses produksi. Masyarakat dapat memilih sendiri satu atau lebih suatu jenis barang yang akan diproduksi dengan pertimbangan tertentu. Misalnya, barang apa yang bermanfaat, menguntungkan, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat? Penentuan barang apa yang akan diproduksi menjadi satu hal yang penting. Kesalahan dalam penentuan jenis barang akan menimbulkan kerugian. 

Selain itu penentuan jumlah produksi juga diperlukan agar barang yang diproduksi dapat dipakai secara maksimal dan tidak percuma. Misalnya seseorang akan memproduksi baju hangat di daerah pantai secara massal. Masyarakat di sekitar pantai tentu lebih membutuhkan baju yang lebih tipis karena cuaca yang panas dibandingkan jaket dan kebutuhan jaket di daerah pantai juga tidak terlalu banyak. Jika orang tersebut memproduksi jaket dalam jumlah besar, bisa jadi akan mengalami kerugian karena apa yang diproduksi tidak disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar.


b. Bagaimana Cara Memproduksi Barang Tersebut (How)?

Produsen telah memilih jenis apa saja dan berapa jumlah barang atau jasa yang nantinya akan diproduksi. Langkah selanjutnya adalah menetapkan bagaimana usaha produksi barang tersebut diterapkan. Produsen perlu mempertimbangkan sumber daya, teknik produksi dan pihak yang akan memproduksi barang atau jasa tersebut. Untuk menghasilkan produk yang maksimal diperlukan kombinasi sumber daya atau faktor produksi, teknologi yang sesuai serta tenaga kerja yang akan digunakan. Sumber daya atau faktor produksi perlu dipertimbangkan kesediaan dan keterjangkauannya termasuk lokasi, harga dan jumlah sumber daya. Selanjutnya, produsen perlu mempertimbangkan teknologi apa saja yang digunakan untuk melakukan produksi: Apakah dengan tenaga manusia secara manual? atau praktis dengan menggunakan mesin produksi? Pemilihan tenaga kerja kompeten dalam menghasilkan barang atau jasa yang akan diproduksi merupakan hal yang penting. 


c. Untuk Siapa Barang dan Jasa Diproduksi (For whom)?

Jenis barang atau jasa serta cara memproduksi barang sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah menentukan untuk siapa barang dan jasa diproduksi. Pada tahap ini produsen menentukan konsumen yang akan menikmati hasil produksi. Produsen akan melakukan segmentasi pasar untuk konsumen menengah ke bawah, konsumen menengah atau konsumen menengah atas. Produsen perlu mempertimbangkan jenis produk atau jasa serta harga barang untuk menentukan segmen pasarnya. 


0 komentar:

Post a Comment test