Siswa Melanggar Aturan, Ini Konsekuensi Untuk Melatih Kedisiplinan

Sunday, April 24, 2022

 

Dok. foto facebook siswi BPK Penabur Jatibarang


Setiap guru pasti pernah memiliki siswa yang pernah melanggar aturan di sekolah. Hal ini terkadang membuat guru jengkel dan tidak bisa menahan emosi. Ujung-ujungnya siswa dimarahi oleh gurunya atau tindakan lain agar mereka jera dan tidak lagi melanggar peraturan yang mungkin harus berurusan dengan pihak kepolisian.


Nah bagaimana cara menangani kasus-kasus pelanggara aturan atau tata tertib sekolah?. Kita harus belajar dari Sekolah BPK Penabur yang mengganti kata hukuman menjadi konsekuensi karana dapat memberikan hasil yang lebih baik.


Hal ini karena konsekuensi menganggap siswa diposisikan sebagai subjek. Subjek akan diberikan tanggung jawab seluas-luasnya dengan konsekuensi sebagai batasannya.


Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan BPK Penabur untuk mengatasi berbagai jenis pelanggaran yang dilakukan siswanya :


1. Siswa Terlambat Masuk

Setiap hari pasti ada siswa yang terlambat masuk ke sekolah. Biasanya mereka diberi hukuman disetrap di depan kelas atau bahkan ada yang memberikan cubitan atau pukulan kepada siswa yang terlambat tersebut. Nah, hukuman seperti ini mungkin bisa memberi efek jera, namun tidak mendidik. Justru siswa bisa jadi melawan, takut, kesal dengan guru tersebut bahkan menjadi trauma. Sebagai guru yang bijak, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari tahu penyebab keterlambatan siswa. Lalu, sebagai konsekuensi, siswa tersebut harus belajar sendiri di perpustakaan sepanjang 2 sesi jam pelajaran. Setelahnya, tanyakan siswa apa yang ia pelajari secara lisan. Bisa dibuat dalam bentuk rangkuman atau penjelasan secara lisan. Selain itu, bisa juga diberikan pelajaran tambahan sepulang sekolah. Berikan batas terlambat, misalnya maksimal tiga kali. Jika melewati batas, maka harus mengerjakan latihan soal dengan nilai minimal atau sesuai KKM. Langkah ini lebih bijak, daripada kekerasan.


2.   Tidak mengerjakan tugas atau PR

Biasanya, hukuman yang diterapkan bagi pelanggaran ini adalah dijemur di halaman sekolah. Hukuman tersebut tidak akan mendidik, karena hanya panas-panasan. Bagaimana jika siswa tersebut mudah sakit? Guru tentu akan diprotes oleh orang tua, bahkan pihak sekolah. Sebagai gantinya adalah memberikan konsekuensi dengan membuat kliping mengenai suatu topik, mengerjakan latihan soal, merangkum buku yang dibaca di perpustakaan, dan sebagainya. Dengan catatan, mereka tetap mengerjakan tugas atau PR tersebut.


3.  Siswa jarang hadir

Setiap tahun pelajaran pasti ada siswa yang jarang hadir ke sekolah?.  Siswa yang kehadirannya kurang dari 80 persen, maka konsekuensinya adalah harus membuat karya tulis ilmiah. Dibandingkan meminta siswa untuk menulis satu kalimat ratusan kali, tentu ini akan lebih mendidik.


4. Menyontek

Setiap penilaian harian, tengah semester, penilaian akhir semester atau penilaian lainnya sering kali kita menemukan siswa menyontek. Nah konsekuensinya bisa berupa pengurangan nilai, kemudian mengerjakan beberapa paket latihan soal. Apabila pelanggaran dilakukan secara kolektif, bentuk konsekuensinya bisa seperti bersih-bersih kelas, toilet, atau sekolah. Hukuman ini mengedukasi siswa untuk hidup tertib dan bersih, juga melatih kedisiplinan.


5.  Pakaian tidak rapi

Hampir setiap hari, guru sering menemukan siswa yang menggunakan pakaian tidak rapi. Hukuman jewerean atau cubitan pada siswa tentu bukan cara yang baik. Jika pakaian siswa tidak rapi, mintalah siswa untuk merapikannya. Namun, jika kedapatan mengulangi, konsekuensinya siswa harus merapikan pakaian di depan kelas.


6.  Membuat keributan di dalam kelas

Biasanya yang membuat keributan akan diminta keluar kelas. Cara ini terkadang malah membuat siswa tidak jera. Tidak jarang, mereka malah senang berada di luar kelas karena bebas dari kegiatan belajar-mengajar. Tentu tidak akan efektif. Coba minta siswa yang membuat keributan untuk duduk di kursi bapak/ibu guru. Apabila lebih dari satu siswa, maka minta mereka duduk di kursi paling depan.


7. Rambut gondrong

Jika pelanggaran ini terjadi, jangan langsung memotong rambut siswa saat itu juga secara asal-asalan. Sebaiknya, beri tahu saja siswa untuk menggunting rambut sepulang sekolah. Kalau belum juga dilaksanakan, berkoordinasi dengan pihak orangtua murid.


Itulah beberapa cara melatih kedisiplinan siswa tanpa memberinya hukuman. Apapun kesalahan yang dilakukan oleh siswa, hal pertama yang sebaiknya menjadi pilihan untuk dilakukan bukanlah hukuman. Jika tanpa hukuman saja siswa dapat memperbaiki perilakunya, mengapa harus dihukum?. Dikutip dari Kompas.com (9/04/2022).

0 komentar:

Post a Comment test